rasa syukur, kepuasan hidup
Ilustrasi, rasa syukur.

Apakah Wanita Sehat Memerlukan Testosteron?

Diposting pada

Bhataramedia.com – Menurut pedoman baru dari Endocrine Society, wanita sehat seharusnya tidak didiagnosis dengan defisiensi testosteron dan diresepkan untuk terapi testosteron.

“Meskipun hanya ada sedikit penelitian yang menunjukkan terapi testosteron pada wanita menopause dapat dikaitkan dengan fungsi seksual yang lebih baik, ada terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab untuk membenarkan resep terapi testosteron pada wanita yang dinyatakan sehat,” jelas Dr. Margaret Wierman, dari University of Colorado.

“Ketika kami mengkaji studi-studi sebelumnya, kami menemukan bahwa banyak wanita yang memiliki kadar testosteron rendah yang diukur dengan teknik yang lebih tua atau baru, tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala yang memprihatinkan. Akibatnya, dokter tidak dapat membuat diagnosa defisiensi androgen pada wanita,” kata Wierman, yang juga merupakan wakil presiden ilmu klinis di endocrine society.

Satu-satunya waktu seorang wanita membutuhkan terapi testosteron adalah jika dia didiagnosis dengan hypoactive sexual desire disorder (HSDD). Gangguan ini terjadi ketika seorang wanita tidak memiliki minat pada seks dan kurangnya minat tersebut menyebabkan tekanan pada hidupnya.

Di dalam kasus tersebut, wanita harus diresepkan dengan percobaan terapi testosteron selama tiga sampai enam bulan untuk menentukan apakah terapi tersebut dapat meningkatkan fungsi seksual mereka. Hal ini berdasarkan pedoman praktek klinis baru yang diterbitkan secara online tanggal 3 Oktober di Journal of Endocrinology and Metabolism Clinical.

Menurut para ahli, terapi testosteron tidak boleh diresepkan untuk meningkatkan fungsi seksual pada wanita yang tidak memiliki HSDD.

Para penulis mencatat bahwa pedoman terapi testosteron pada wanita telah dikaitkan dengan perubahan kolesterol, jerawat dan pertumbuhan berlebihan dari rambut di lokasi seperti wajah, punggung dan dada. Risiko jangka panjang terhadap payudara dan kardiovaskular masih belum diketahui.

“Saat ini, tidak ada cukup bukti bahwa manfaat terapi testosteron jauh lebih besar daripada risiko yang timbul pada kebanyakan wanita. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan keamanan jangka panjang dari terapi testosteron pada wanita pascamenopause,” kata Wierman, seperti dilansir University of Colorado (3/10/2014).