depresi, anak, pupillometry
Prediksi reaktivitas fisiologis terhadap rangsangan sedih, yang dinilai dengan menggunakan pupillometry, berfungsi sebagai salah satu biomarker potensi risiko depresi pada anak-anak.(Credit: John King, Binghamton University)

Respon Pupil Prediksi Risiko Depresi Pada Anak-Anak

Diposting pada
depresi, anak, pupillometry
Prediksi reaktivitas fisiologis terhadap rangsangan sedih, yang dinilai dengan menggunakan pupillometry, berfungsi sebagai salah satu biomarker potensi risiko depresi pada anak-anak.(Credit: John King, Binghamton University)

Bhataramedia.com –┬áSeberapa besar pupil seorang anak melebar ketika melihat gambar emosional, dapat memprediksi risiko depresi anak tersebut selama dua tahun ke depan. Temuan ini berdasarkan penelitian baru dari Binghamton University.

Menurut Brandon Gibb, profesor psikologi di Binghamton University dan direktur Mood Disorders Institute dan Center for Affective Science, temuan baru ini menunjukkan bahwa reaktivitas fisiologis terhadap rangsangan sedih, yang dinilai dengan menggunakan pupillometry, berfungsi sebagai salah satu biomarker potensi risiko depresi pada anak-anak dengan ibu yang mengalami depresi. Pupillometry adalah alat murah yang dapat diberikan dalam pengaturan klinis, seperti pada kantor dokter anak, untuk membantu mengidentifikasi anak-anak dengan risiko tertinggi untuk mengembangkan depresi.

“Kami berpikir bahwa jenis penelitian ini pada akhirnya dapat menyebabkan skrining universal pada kantor dokter anak, untuk menilai risiko depresi anak-anak di masa depan,” kata Gibb, seperti dilansir Binghamton University, State University of New York (07/07/2015).

Gibb merekrut anak-anak yang ibunya memiliki riwayat penyakit depresi dan mengukur dilatasi pupil mereka, ketikia mereka melihat wajah marah, bahagia dan sedih. Penilaian tindak lanjut dilakukan selama dua tahun ke depan, di mana wawancara terstruktur digunakan untuk menilai tingkat gejala depresi anak-anak, serta timbulnya diagnosis depresi.

Anak-anak yang menunjukkan dilatasi pupil yang relatif lebih besar untuk wajah sedih, mengalami tingkat gejala depresi yang lebih tinggi untuk menimbulkan episode depresi klinis yang lebih signifikan. Temuan ini khusus untuk respon anak-anak terhadap wajah sedih dan tidak mengamati reaktivitas pupil anak pada saat melihat wajah marah atau senang.

Penelitian yang berjudul “Pupillary Reactivity to Sad Stimuli as a Biomarker of Depression Risk: Evidence From a Prospective Study of Children” tersebut, diterbitkan minggu ini di Journal of Abnormal Psychology.

Referensi Jurnal :

Katie L. Burkhouse, Greg J. Siegle, Mary L. Woody, Anastacia Y. Kudinova, Brandon E. Gibb. Pupillary Reactivity to Sad Stimuli as a Biomarker of Depression Risk: Evidence From a Prospective Study of Children. Journal of Abnormal Psychology, 2015; DOI: 10.1037/abn0000072.