Bagas dan Ibu. (Credit: ugm.ac.id)
Bagas dan Ibu. (Credit: ugm.ac.id)

Belajar dari Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidik Misi di UGM (I)

Diposting pada
Bagas dan Ibu. (Credit: ugm.ac.id)
Bagas dan Ibu. (Credit: ugm.ac.id)

Bhataramedia.com – Menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri yang ternama di Indonesia, bagi masyarakat miskin memang sudah seperti katak yang merindukan bulan. Terlalu berlebihan dan bermimpi, terutama jika berbicara soal uang kuliah yang sudah setara dengan biaya angsuran kredit rumah.

Namun, di tengah-tengah tekanan inflasi dan meningkatnya biaya pendidikan, terutama di perguruan tinggi. Kini mimpi-mimpi untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas di Indonesia, memang bisa menjadi kenyataan.

Tengok saja, sosok penerima Beasiswa Pendidikan Bagi Calon Mahasiswa Berprestasi (Bidik Misi) yang berhasil masuk ke Universitas Gajah Mada berikut ini. Bagas Wahyu Setiyaningsih contohnya. Ketika teman-temannya lebih senang untuk kos, ia tetap semangat berangkat sekolah naik sepeda motor ke SMAN 2 Magetan dari rumahnya di Pucanganom, Kendal, Ngawi. Jarak 16 km setiap hari bukanlah kendala bagi Bagas untuk menuntut ilmu. Kegigihannya mengantarkan dia ke Jurusan Ilmu Keperawatan UGM melalui jalur Bidik Misi.

Bagas Membantu Ayah Berjualan Mie Ayam. (Credit: ugm.ac.id)
Bagas Membantu Ayah Berjualan Mie Ayam. (Credit: ugm.ac.id)

“Alhamdulillah senang rasanya bisa diterima di UGM,” kata Bagas bersemangat, seperti yang dilansir dari situs resmi UGM hari Kamis (18/6/2015).
Meskipun berasal dari keluarga pas-pasan Bagas tidak merasa minder. Ayahnya, Rahmanto adalah penjual mie ayam di pasar. Sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Penghasilan keluarga ini per bulan sekitar 1 juta. Menurut Suprapti, ayah Bagas sebenarnya sering sakit-sakitan dan pernah masuk rumah sakit karena maag kronis.

Kini, setelah diterima di UGM keluarga berharap nantinya Bagas bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa meringankan beban orang tua.