serangan jantung
Ilustrasi.

Perjalanan Udara Setelah Serangan Jantung, Apakah Aman?

Diposting pada

Bhataramedia.com – Menurut studi baru, orang yang memiliki serangan jantung saat bepergian ke luar negeri kemungkinan dapat dengan aman terbang pulang menggunakan penerbangan komersial biasa,.

Studi tersebut diterbitkan di Air Medical Journal.

“Hanya ada sedikit  informasi dan literatur yang memandu rekomendasi dan membantu pasien maupun anggota keluarga yang memiliki masalah medis di luar negeri, untuk kemudian meminta kapan waktu yang aman untuk pulang,” kata Dr. William Brady, penulis senior studi tersebut.

“Pasien-pasien dengan serangan jantung tidak rumit biasanya mampu terbang kembali ke negara asalnya sekitar 10 hari dan menggunakan maskapai penerbangan komersial biasa,” tambahnya.

Mereka yang hanya memiliki nyeri dada yang terkait dengan jantung biasanya dapat melakukan perjalanan lebih cepat, katanya.

Rata-rata, pasien serangan jantung yang mengalami komplikasi saat dirawat di rumah sakit dapat terbang kembali sekitar 15 hari setelah serangan tersebut.

Sebagian besar pasien di dalam penelitian ini tidak memiliki masalah di dalam penerbangan. Namun, Brady menekankan, pasien harus stabil sebelum mencoba untuk kembali ke rumah pada maskapai penerbangan komersial. Hal ini hanya dapat ditentukan oleh dokter yang menangani pasien tersebut di negara asing.

“Jika Anda memiliki komplikasi, kemungkinan Anda akan lebih lama untuk dapat terbang kembali ke rumah, atau Anda kemungkinan memerlukan transportasi medis jika Anda berada di dalam situasi dimana Anda tidak mendapatkan perawatan yang tepat,” katanya, seperti dilansir Newsmax Health (22/9/2014).

Selain menjadi seorang profesor pengobatan darurat dan penyakit dalam di University of Virginia, Dr. Brady juga berafiliasi dengan Allianz Global Assistance, suatu perusahaan asuransi perjalanan.

Di dalam penelitian ini,dia dan rekan-rekannya melihat data dari 288 pasien yang terdaftar di dalam program bantuan medis berbasis wisata dari Allianz dan mengalami sindrom koroner akut saat bepergian ke luar negeri antara tahun 2006 dan 2011.

Sindrom koroner akut mengacu pada kondisi apapun yang terjadi secara tiba-tiba akibat berkurangnya aliran darah ke jantung.

Setengah lebih sedikt dari pasien mengalami serangan jantung, sementara yang lain mengalami “angina yang tidak stabil,” suatu kondisi nyeri dada tak terduga yang berhubungan dengan jantung. Sekitar dua pertiga telah menerima beberapa jenis terapi reperfusi (baik intervensi koroner perkutan atau operasi jantung).

Sekitar tiga-perempat dari pasien melakukan penerbangan kembali ke rumah dengan pengawalan medis. Sekitar satu dari setiap enam oksigen digunakan selama penerbangan.

Orang-orang yang kemungkinan membutuhkan oksigen selama penerbangan harus membawa pasokan oksigen mereka sendiri, dengan izin dari maskapai penerbangan terlebih dahulu.

Secara keseluruhan, hanya empat pasien, atau kurang dari dua persen, memiliki masalah selama penerbangan. Satu melaporkan kecemasan, salah satu memiliki irama jantung yang tidak normal, salah satu memiliki nyeri dada dan salah satu mengalami pusing dan berkeringat.

Sembilan pasien (tiga persen) meninggal di dalam waktu dua minggu setelah pulang ke rumah. Enam di antara mereka yang memiliki komplikasi setelah serangan jantung. Tak satu pun dari pasien dengan masalah jantung selama penerbangan meninggal selama masa tindak lanjut studi tersebut.

Perjalanan udara dapat menyebabkan masalah bagi pasien sindrom koroner akut, hal tersebut termasuk berkurangnya pasokan oksigen, kecemasan yang berhubungan dengan perjalanan dan akses yang sangat terbatas untuk perawatan medis sementara selama penerbangan.

Hal tersebut dapat mengkhawatirkan ketika pasien berada pada penerbangan panjang trans-Atlantik atau trans-Pasifik. Tidak ada kemampuan untuk mendarat di mana saja dan jika ada masalah medis di pesawat, tidaka ada yang benar-benar dapat dilakukan bahkan jika ada profesional kesehatan di pesawat,” jelas Brady.

Setelah kembali AS, 41 persen dari pasien di dalam penelitian ini mampu untuk langsung pulang ke rumah dan tidak perlu ke rumah sakit.

Namun, Dr. Robert O. Bonow, seorang profesor kedokteran di Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, memperingatkan bahwa penelitian tersebut adalah penelitian kecil dan kemungkinan tidak berlaku untuk masyarakat secara umum.

“Semua pasien berada di bawah naungan program bantuan medis berbasis wisata dan sebagian besar memiliki bantuan medis saat penerbangan pulang, jadi ini mungkin tidak begitu aman bagi wisatawan rata-rata,” kata Bonow, yang juga merupakan mantan presiden American Heart Association dan tidak terlibat di dalam penelitian tersebut.

“Kami tidak mengetahui bagaimana hasilnya jika dilakukan pada ribuan wisatawan yang mengalami serangan jantung di luar negeri tanpa bantuan pengaman medis,” tambah dia

Tapi tetap saja, dia menambahkan bahwa penelitian tersebut memberikan beberapa kabar baik, karena tampaknya bahwa perjalanan udara dapat aman untuk beberapa pasien setelah serangan jantung. Keadaan individu, bagaimanapun juga, harus selalu dipertimbangkan.

“Kemungkinan ada keadaan khusus dimana anda harus melakukan perjalanan lebih cepat,” katanya. “Selain itu, pasien juga dapat melakukan pemeriksaan dengan dokter mereka setelah kembali ke rumah, sebelum membuat keputusan untuk terbang,” kata Bonow.

Brady memperingatkan bahwa pencegahan kemungkinan menjadi pilihan terbaik. “Sistem kesehatan di bagian lain dunia dapat sangat berbeda dengan yang ada di Amerika Utara,” katanya. Pasien dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mengambil sejumlah faktor untuk dijadikan pertimbangan sebelum mereka bepergian ke luar negeri.

“Mereka perlu bertanya pada diri sendiri, apakah cocok bagi mereka untuk bepergian ke luar negeri dan memahami sumber daya apa yang tersedia,” katanya.