protein DNA
Ilustrasi.

Telah Ditemukan Target Baru Potensial untuk Terapi Kanker Otak

Diposting pada

Bhataramedia.com –┬áPeneliti dari Virginia Commonwealth University (VCU) Massey Cancer Center dan VCU Institute for Molecular Medicine (VIMM) telah mengidentifikasi interaksi protein-protein baru yang dapat berfungsi sebagai target terapi di masa depan pada bentuk paling umum dari kanker otak, glioblastoma multiforme (GBM). GBM adalah penyakit yang sangat merusak dan berasal dari glia atau prekursornya di dalam sistem saraf pusat. Prognosis untuk pasien GBM sayangnya masih sangat buruk, tetapi penemuan ini menawarkan potensi terapi baru.

Menurut studi yang baru-baru ini diterbitkan di edisi online jurnal Cancer Research tersebut, para ilmuwan menunjuk interaksi baru antara gen AEG-1 dan Akt2 yang mengatur karakteristik keganasan GBM. Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan penulis utama studi ini, Paul B. Fisher, M.Ph., Ph.D., telah menemukan gen AEG-1 dioverekspresikan di dalam sebagian besar jenis kanker. Gen Akt2 juga dioverekspresikan di dalam beberapa jenis kanker lainnya. Penelitian baru ini menunjukkan umpan balik yang positif antara protein yang diekspresikan oleh gen AEG-1 dan Akt2 yang mempromosikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup GBM.

“Ini adalah pertama kalinya pensinyalan kompleks dari protein-protein tersebut diidentifikasi di GBM dan memberikan kita target potensial baru bagi pengembangan obat,” kata Fisher, Thelma Newmeyer Corman Endowed Chair in Cancer Research dan wakil program penelitian Cancer Molecular Genetics di VCU Massey, serta profesor dan ketua Cancer Molecular Genetics research program di VCU School of Medicine.

“Jika kami dapat mengembangkan obat yang mengganggu interaksi antara dua protein tersebut, kami berpotensi memadukannya dengan terapi konvensional untuk lebih efektif mengobati glioma ganas,” lanjut Fisher.

Pensinyalan sel merupakan proses yang kompleks dimana interaksi antara sel dan lingkungannya mengatur fungsi dan kegiatan seluler dasar. Bin Hu, Ph.D., ilmuwan postdoctoral senior di dalam tim Fisher menemukan bahwa interaksi antara protein AEG-1 dan Akt2 sangat penting untuk kelanjutan pensinyalan Akt2, yang mengatur kelangsungan hidup sel tumor, proliferasi dan invasi.

Selain itu, analisis sampel jaringan pasien menunjukkan bahwa ekspresi AEG-1 dan Akt2 berkorelasi dengan perkembangan GBM dan mengurangi kelangsungan hidup pasien. Di dalam percobaan praklinis, para peneliti mengganggu interkasi AEG-1 dan Akt2 melalui proses yang dikenal sebagai pengikatan kompetitif dan mengamati penurunan kelangsungan hidup dan invasi sel GBM. Pada saat dikombinasikan dengan pemblokiran AEG-1 pada model tikus dengan GBM dari manusia, ada peningkatan kelangsungan hidup.

“Di dalam studi ini kami memetakan daerah interaksi pada kedua gen untuk memulai proses pengembangan obat yang dapat mengisi ruang-ruang dan memblokir gen-gen ini untuk saling berikatan. Jika berhasil, pengobatan baru ini juga dapat berlaku untuk berbagai jenis kanker lainnya yang mengekspresikan kedua gen tersebut,” kata Fisher, seperti dilansir Virginia Commonwealth University (13/01/2015).