Memantine.
Memantine.

Pengembangan Antidepresan Reaksi Cepat Untuk Mengobati Depresi Resisten Terapi

Diposting pada

Bhataramedia.com – Peneliti dari Southwestern Medical Center telah menghasilkan wawasan baru yang dapat membantu di dalam pengembangan antidepresan yang cepat bereaksi untuk mengobati depresi yang resisten terhadap terapi.

Para peneliti telah menyelidiki obat yang disebut memantine. Obat tersebut saat ini telah disetujui FDA untuk mengobati penyakit Alzheimer tingkat sedang hingga berat. Memantine ternyata juga berpotensi sebagai terapi yang menjanjikan untuk pengobatan depresi yang resisten terhadap terapi.

“Memantine bekerja seperti ketamin, keduanya bekerja pada reseptor di otak yang sama. Namun, data klinis terbaru menunjukkan bahwa memantine tidak “mengerahkan” tindakan anti depresan yang cepat untuk alasan yang kurang dipahami, kata Dr. Lisa Monteggia, seorang profesor ilmu saraf, seperti dilansir UT Southwestern Medical Center (12/6/2014).

“Meskipun ketamine dan memantine memiliki tindakan yang sama ketika sel-sel saraf aktif, di bawah kondisi istirahat, memantine kurang efektif di dalam menghalangi komunikasi sel saraf dibandingkan dengan ketamin. Perbedaan mendasar mengenai mekanisme kedua obat tersebut dapat menjelaskan mengapa memantine belum efektif sebagai obat antideperesan yang bereaksi dengan cepat,” kata Dr. Monteggia, Ginny and John Eulich Professorship di bidang gangguan spektrum autisme.

Efek yang berbeda dari ketamin dan memantine mengubah sinyal yang berasal dari reseptor NMDA, khususnya reseptor yang menentukan efektivitas suatu anti depresan. Dr. Monteggia mencatat bahwa temuan baru ini menunjukkan cara untuk memblokir reseptor NMDA sehingga dapat mengontrol depresi dengan efek samping yang lebih sedikit.

Penelitian yang dilakukan Dr. Monteggia memfokuskan pada mekanisme molekuler dan seluler dari plastisitas saraf. Mekanisme tersebut merupakan sifat dasar sel saraf untuk mengubah komunikasi mereka. Selain dapat memahami gangguan neuropsikiatri akibat perubahan komunikasi sel saraf, para peneliti juga dapat memahami mekanisme yang mendasari efektivitas anti depresan.

Pedoman dari American Psychiatric Association menyarankan penggunaan obat adalah terapi pilihan untuk gejala-gejala depresi sedang hingga depresi berat. Sekitar satu dari 10 orang di AS berusia 12 tahun atau lebih, membutuhkan obat anti-depresan dan sekitar 14 persen dari orang-orang yang meminum obat anti depresan telah melakukannya selama 10 tahun atau lebih.

Antidepresan adalah obat urutan ketiga yang paling umum diresepkan dan digunakan oleh orang-orang Amerika dari segala usia antara tahun 2005 hingga 2008. Menurut survei dari Centers for Disease Control (CDC), resep obat anti depresan paling sering digunakan oleh orang-orang berusia 18 sampai 44 tahun. Menurut data dari CDC, rata-rata penggunaan anti depresan di Amerika Serikat di antara semua usia meningkat hampir 400 persen pada tahun 2005-2008 jika dibandingkan dengan periode tahun 1988-1994.

Secara keseluruhan, wanita dua setengah kali lebih mungkin untuk menggunakan anti depresan. Sekitar 23 persen dari wanita yang berusia usia 40-59 tahun menggunakan anti depresan.

CDC memperkirakan bahwa hampir 8 persen orang di atas usia 12 tahun saat ini dilaporkan sedang mengalami depresi. Wanita memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan pria di setiap kelompok umur. Wanita dengan usia antara 40-59 tahun memiliki tingkat depresi tertinggi (sekitar 12 persen). Depresi menghasilkan lebih dari 8 juta kunjungan ke dokter, rumah sakit dan ruang gawat darurat. Hampir 400.000 pasien depresi menjalani rawat inap selama rata-rata 6,5 hari.