Tanaman
Tanaman. (Credit: NAU IDEA Lab)

Lepasnya Karbon Dari Tanah Percepat Perubahan Iklim

Diposting pada

Bhataramedia.com – Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science menemukan bahwa peningkatan kadar karbondioksida di atmosfer menyebabkan mikroba tanah untuk menghasilkan lebih banyak karbondioksida. Hal ini dapat mempercepat proses perubahan iklim.

Dua peneliti dari Northern Arizona University telah menantang pemahaman sebelumnya mengenai bagaimana karbon terakumulasi di dalam tanah. Sampai saat ini, semua orang percaya bahwa peningkatan kadar CO2 mempercepat pertumbuhan tanaman, sehingga menyebabkan lebih banyak penyerapan CO2 melalui fotosintesis. Karbon tersebut kemudian disimpan di dalam kayu dan tanah untuk waktu yang lama, sehingga memperlambat perubahan iklim.

Namun, penelitian baru menunjukkan bahwa kadar karbon tambahan menyediakan bahan bakar untuk mikroorganisme di dalam tanah yang menghasilkan produk sampingan, seperti CO2. Produk sampingan tersebut kemudian dilepaskan ke atmosfer dan berkontribusi terhadap perubahan iklim.

“Temuan kami menunjukkan bahwa alam tidak efisien di dalam memperlambat pemanasan global seperti yang kita pikirkan sebelumnya,” kata Kees Jan van Groenigen, peneliti di Center for Ecosystem Science and Society NAU dan penulis utama studi tersebut, seperti dilansir laman NAU (24/4/2014). “Dengan melihat efek peningkatan CO2 pada mikroba tanah, model yang selama ini digunakan oleh Lembaga Antar pemerintah mengenai Perubahan Iklim kemungkinan telah berlebihan di dalam menilai potensi tanah untuk menyimpan karbon dan mengurangi efek rumah kaca, tambah dia.”

Di dalam rangka untuk lebih memahami bagaimana mikroba tanah menanggapi perubahan atmosfer, peneliti menggunakan teknik statistik dan uji pola secara umum pada berbagai studi yang telah dilakukan. Mereka menganalisis hasil yang telah dipublikasikan dari 53 percobaan yang berbeda di hutan, padang rumput dan lahan pertanian di seluruh dunia. Para peneliti kemudian mengukur CO2 tambahan di atmosfer yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, produksi karbon dioksida oleh mikroba, dan jumlah total karbon di dalam tanah pada akhir percobaan.

“Kami sudah lama berpikir jika tanah merupakan tempat yang aman dan stabil untuk menyimpan karbon, tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa karbon di dalam tanah ternyata tidak stabil,” kata Bruce Hungate, direktur Center for Ecosystem Science and Society NAU dan salah penulis studi. “Kita tidak boleh lengah terhadap “subsidi” yang diberikan alam untuk memperlambat perubahan iklim,” tambah Bruce.

Referensi Jurnal :

Kees Jan van Groenigen, Xuan Qi, Craig W. Osenberg, Yiqi Luo, and Bruce A. Hungate. Faster Decomposition Under Increased Atmospheric CO2 Limits Soil Carbon Storage. Science, 2014 DOI: 10.1126/science.1249534.