Para ilmuwan untuk pertama kalinya telah berhasil mengembangkan sel punca dari orang dewasa menggunakan sel-sel kulit dari dua pria dewasa.
Para ilmuwan untuk pertama kalinya telah berhasil mengembangkan sel punca dari orang dewasa menggunakan sel-sel kulit dari dua pria dewasa. (Photo : REUTERS/ROBERT LANZA/ADVANCED CELL TECHNOLOGY/HANDOUT)

Pertama Kalinya di Dunia : Sel Punca yang “Dicangkok” dari Sel Dewasa

Diposting pada

Bhataramedia.com – Para ilmuwan untuk pertama kalinya telah berhasil mengembangkan sel punca dari orang dewasa menggunakan sel-sel kulit dari dua pria dewasa, menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Cell Stem Cell.

Terobosan baru tersebut mendeskripsikan “kloning terapeutik” pada dua orang pria berusia 35 dan pria 75 tahun. Proses yang secara teknis disebut transfer inti sel somatik (somatic-cell nuclear transfer), melibatkan pengambilan DNA dari donor dan memasukkannya ke dalam sel telur yang telah “dilucuti” DNA-nya. Hibrida yang dihasilkan melalui induksi tersebut, menciptakan garis sel punca yang dimaksudkan untuk berkembang menjadi segala jenis sel atau jaringan manusia.

Tim peneliti internasional menggunakan 77 telur dari empat donor yang berbeda, dan dari 39 embrio yang dihasilkan, para ilmuwan hanya menciptakan satu sel punca untuk tiap donor. Meskipun efisiensinya hanya sebesar 5 persen, kepala peneliti Dr. Robert Lanza tetap optimis terhadap hasil karyanya.

“Prosedur yang kami lakukan bekerja dengan baik, dan bekerja pada sel dewasa,” kata dia kepada majalah TIME.

Keyakinan Dr. Robert Lanza tampaknya tidak terlalu mengada-ada mengingat kerumitan penciptaan sel punca. Tim peneliti mengatakan bahwa aspek utama keberhasilan mereka memungkinkan telur yang telah direkayasa dapat bertahan selama 30 menit, sebelum sel telur tersebut dialiri dengan muatan listrik yang pada dasarnya membuat telur menjadi hidup. Sel-sel punca pluripotensi terletak di bagian dalam embrio yang berkembang nantinya akan berkembang menjadi berbagai jenis sel atau jaringan manusia yang diinginkan, seperti dilansir Nature World News (18/4/2014).

Kesuksesa Lanza dan rekan-rekannya didapatkan melalui suatu prosedur terobosan yang menggunakan teknik transfer inti dan kualitas sel telur donor.

Akan tetapi, transfer inti merupakan “lereng licin” di dalam dunia genetik. Transfer inti merupakan langkah pertama di dalam kloning reproduksi, topik yang sangat kontroversial karena pada tahun 1997 teknik tersebut digunakan untuk membuat Dolly, klon dari seekor domba betina. Sejak tahun 2005, PBB sudah mendesak berbagai negara untuk melarang praktek kloning, Amerika Serikat bahkan telah melarang penggunaan dana federal untuk kloning reproduksi atau terapeutik, menurut Reuters.