pria
Ilustrasi. (Photo: Kevingoerner)

Pria Lajang Berisiko Tinggi Mengidap Kanker Kulit

Diposting pada

Bhataramedia.com – Kanker memang selalu menjadi sosok penyakit yang cukup ditakuti. Saat mendengar istilah ini, setiap orang selalu mengidentikkan dengan penyakit yang mematikan. Anggapan ini terus bertahan hingga sekarang. Meski anggapan ini tidak sepenuhnya salah, akan tetapi pada faktanya memang tidak semua kanker itu mematikan. Hanya kanker pada stadium tertentu saja yang bisa membawa kematian. Hal yang serupa juga terjadi pada kanker kulit. Untuk itu pengetahuan tentang kanker perlu diluruskan agar masyarakat mampu mengidentifikasi kanker secara lebih dini.

Kanker kulit sebenarnya merupakan wujud petumbuhan sel-sel kulit yang tumbuh secara abnormal. Umumnya kanker kulit ini tumbuh pada lapisan sel skuamosa, basal dan melanosit. Karena tumbuh di lapisan paling luar kulit, tumor ataupun benjolan dapat dideteksi secara lebih dini. Tidak seperti pada kanker pada umumnya, kanker kulit merupakan salah satu jenis kanker yang sangat jarang bisa menyebabkan kematian. Ini dikarenakan sel kanker jarang dapat mencapai organ-organ vital dalam tubuh.

Penyebab kanker kulit cukup beragam, begitu pula dengan resiko yang dapat ditimbulkannya. Namun berdasarkan riset yang dilakukan oleh para peneliti di Swedia, pria lajang atau yang hidup sendirian terbukti memiliki resiko kanker kulit melanoma lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang hidup bersama dengan istri atau keluarganya.

Seperti dilansir laman ninemsn (2/4/2014), penelitian ini dilakukan dengan melihat data dari 27 ribu penderita kanker kulit di Swedia dari tahun 1990 dan 2007. Dari data tersebut, diujilah resiko terkena kanker dengan status percintaan. Dan dari 13400 pria penderita kanker kulit, 2.400 orang meninggal ketika diteliti. Dari sini para peneliti menemukan fakta bahwa 30% hingga 50% penderita kanker kulit yang tinggal sendirian berakhir pada kematian.

Wanita yang hidup sendirian ternyata juga memiliki resiko yang serupa. Akan tetapi resiko yang ada tidak sebesar resiko pada pria. Umumnya resiko ini muncul hanya pada diagnosa awal. Sedangkan resiko kematian karena kanker kulit jauh lebih kecil dibandingkan dengan resiko yang dimiliki oleh kaum pria. Kenapa pria yang hidup sendirian memiliki resiko kanker kulit yang lebih besar? Menurut Craig Sinclair ketua Cancer Council’s Public Health Committee, ada dua alasan kenapa pria memiliki resiko yang lebih besar. Selain karena tidak bisa melihat beberapa titik yang mungkin sudah terkena kanker, pria juga cenderung lebih jarang ke dokter.

Kedua hal tersebut menyebabkan para pria yang tinggal sendirian gagal mendeteksi kanker kulit secara lebih dini. Saat kanker tersebut telah mencapai stadium yang berbahaya, baru mereka menyadari masalah kesehatan ini. Jika ini yang terjadi, tindakan perawatan juga tidak akan banyak membantu, apalagi jika tidak langsung ditangani oleh ahlinya.

Berdasarkan riset tersebut, para pria bisa mengurangi resiko kanker kulit dengan hidup bersama dengan keluarga. Menikah juga bisa menjadi salah satu solusi. Bahkan ada yang menilai bahwa menikah adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kanker kulit. Kesimpulan ini bukan tanpa dasar. Saat menikah, masing-masing pasangan pasti akan memperhatikan kondisi kesehatan pasangannya. Jika ada yang sakit atau tampak memiliki gejala penyakit tertentu, pasangan pasti akan memberitahu dan berusaha menyelesaikan masalah ini bersama. Sebaliknya, saat masih lajang para pria cenderung lebih minim informasi terkait dengan kesehatan. Mereka juga tidak memiliki pasangan yang bisa melihat gejala aneh pada kulit mereka. Akibatnya, kondisi pria lajang semakin menurun karena kanker kulit yang diderita semakin parah. Ini dikarenakan para pria lajang umumnya baru memeriksakan kondisi kesehatannya saat mereka merasakan gejala penyakit yang lebih serius.