otak
Ilustrasi, otak.(Credit: Woutergroen via Wikimedia COmmons)

Otak Memisahkan Respons Emosional dari Memori Eksplisit di dalam Situasi yang Menakutkan

Diposting pada

Bhataramedia.com – Peneliti di kelompok Cognition and Brain Plasticity dari Bellvitge Biomedical Research Institute (IDIBELL) dan University of Barcelona  telah melacak jejak kenangan implisit dan eksplisit rasa takut pada manusia. Studi yang telah dipublikasikan di jurnal Neurobiology of Learning and Memory tersebut, menjelaskan bagaimana di dalam konteks ketakutan, otak kita secara berbeda mengkodekan memori kontekstual dari peristiwa negatif (tempat, apa yang kita lihat) dan respon emosional yang terkait.

Studi ini mengukur aktivitas elektrodermal dari 86 orang di dalam ketakutan yang dihasilkan di laboratorium dan di dalam konteks netral di mana mereka harus belajar daftar kata. Satu minggu dan dua minggu setelah percobaan mereka diuji untuk melihat kata-kata mana yang mereka ingat.

“Kurva untuk melupakan terbilang normal, seiring waktu mereka akan lupa semua kata-kata dan ini merupakan jejak memori eksplisit. Di dalam konteks rasa takut, aktivitas elektrodermal, respon implisit emosional, jauh lebih tinggi daripada di dalam konteks netral,” jelas Pau Packard, penulis studi tersebut.

“Di dalam peristiwa traumatik, tampaknya dari waktu ke waktu ada sebagian dari memori yang terhapus atau kita tidak memiliki akses ke dalam memori tersebut, kita lupa akan rinciannya, tetapi tetap mempertahankan reaksi emosional. Jejak ini dibagi menjadi dua jalur terpisah. Otak memisahkan memori eksplisit pada peristiwa negatif dari respon emosional,” lanjut dia seperti dilansir IDIBELL-Bellvitge Biomedical Research Institute (05/11/2014).

Penemuan ini dapat membantu untuk memahami mengapa di dalam situasi gangguan stres pascatrauma, respon emosional yang tidak terkontrol terkait dengan peristiwa negatif yang dihasilkan tanpa diketahui apa penyebabnya.

“Membantu menjelaskan bagaimana pengolahan kenangan menakutkan dapat menyebabkan gangguan stres pascatrauma dapat membuka pintu bagi penyelidikan strategi terapi baru untuk gangguan ini, karena memori jejak implisit di dalam konteks rasa takut tidak lepas dari waktu ke waktu dan dapat dideteksi melalui langkah-langkah elektrodermal,” jelas Lluís Fuentemilla, koordinator proyek studi tersebut.