loading...
jaringan paru-paru, gen FOXO1, sel endotel
Gambar ini menunjukkan jaringan paru-paru tikus dewasa di mana gen FOXO1 telah dihapus dalam sel endotel selama dua minggu. Paru-paru mengalami penebalan kantung-kantung udara kecil yang disebut alveolar dan mengembangkan kemampatan, serta peradangan yang parah. Hal ini menyebabkan pendarahan paru, fibrosis pada paru-paru dan kematian. Pada tes laboratorium, senyawa eksperimental sedang dikembangkan oleh para peneliti di Cincinnati Children’s Hospital Medical Center, untuk menstabilkan FOXO1 dan memungkinkan paru-paru untuk pulih.(Credit: Cincinnati Children’s)

Bhataramedia.com – Para peneliti sedang mengembangkan obat baru untuk mengobati kerusakan paru-paru yang mengancam jiwa dan masalah pernapasan pada orang dengan infeksi berat seperti pneumonia, mereka yang menjalani pengobatan kanker tertentu dan bayi prematur dengan paru-paru yang rentan.

Para ilmuwan di Cincinnati Children’s Hospital Medical Center melaporkan bahwa faktor transkripsi yang disebut FOXF1 mengaktifkan beberapa proses biologis yang mendorong pemulihan dari cedera paru akut. Dua laboratorium di Cincinnati Children sedang mengembangkan senyawa farmakologis, yang pada model tikus merangsang FOXF1 dan mempromosikan perbaikan setelah cedera paru-paru.

“Selain toksisitas dari beberapa pengobatan kanker, cedera paru akut dapat menjadi masalah kesehatan besar bagi orang-orang yang mendapatkan penyakit menular seperti flu, radang paru-paru atau Ebola, karena patogen-patogen ini menargetkan paru-paru,” kata Vladimir Kalinichenko, MD, Ph.D., rekan wakil penulis senior, serta seorang dokter dan peneliti di Divisions of Pulmonary Biology and Developmental Biology, di Cincinnati Children.

“Senyawa molekul kecil yang kami kembangkan secara efisien menstabilkan protein FOXF1 dalam kultur sel dan paru-paru tikus, dan itu menjanjikan untuk menghambat peradangan paru-paru dan melindungi tikus percobaan dari cedera paru-paru.”

Bersama dengan rekan penulis senior, Tanya Kalin, MD, Ph.D., Cincinnati Children’s Perinatal Institute, tim peneliti mengetahui bahwa hilangnya FOXF1 di sel endotel paru-paru tikus menyebabkan mereka meninggal akibat masalah pernapasan, edema paru (cairan di paru-paru) dan radang paru-paru. Hal ini terjadi ketika sel-sel endotel yang melapisi pembuluh darah di paru-paru tidak dapat lagi memberikan penghalang pelindung antara lingkungan eksternal dan sistem sirkulasi tubuh.

Mutasi pada gen FOXF1 menyebabkan displasia kapiler alveolar, gangguan paru-paru bawaan langka pada bayi baru lahir dan balita, sehingga peneliti menggarisbawahi pentingnya FOXF1 pada sistem pernapasan. Alveolar adalah kantung udara kecil di paru-paru.

Para penulis mengusulkan bahwa menstabilkan atau memulihkan FOXF1 akan mempromosikan pembentukan pembuluh darah di paru-paru, mempromosikan penyembuhan dan mengurangi komplikasi pernapasan pada anak-anak dan orang dewasa.

Para peneliti menindaklanjuti studi mereka saat ini dengan pengembangan lebih lanjut dari molekul kecil tertarget yang baru mereka temukan. Secara khusus, mereka menentukan efektivitas dan keamanan senyawa penarget FOXF1 pada model tikus dengan cedera dan perbaikan paru. Para penulis menekankan bahwa waktu tambahan dan penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum senyawa ini dapat diuji pada pasien manusia.

Sindrom gangguan pernapasan akut merupakan komplikasi yang mengancam jiwa dari cedera paru akut dengan angka kematian lebih dari 35 persen. Penyakit ini menyumbang sekitar 75.000 kematian dan 3,5 juta hari di rumah sakit per tahun di Amerika Serikat, menurut penulis.

Dilansir Cincinnati Children’s Hospital Medical Center (19/04/2016), mengingat kurangnya perbaikan besar dalam manajemen klinis cedera paru akut dan gangguan pernapasan, penelitian ini dirancang untuk mengatasi kebutuhan mendesak bagi pendekatan molekuler inovatif yang melengkapi terapi yang ada, menurut para peneliti.

Referensi Jurnal :

Y. Cai, C. Bolte, T. Le, C. Goda, Y. Xu, T. V. Kalin, V. V. Kalinichenko. FOXF1 maintains endothelial barrier function and prevents edema after lung injury. Science Signaling, 2016; 9 (424): ra40 DOI: 10.1126/scisignal.aad1899.