virus
Ilustrasi, virus.

Bhataramedia.com – Virus mirip SARS yang ditemukan pada kelelawar tapal kuda Cina, kemungkinan siap untuk menginfeksi manusia tanpa perlu adaptasi, mengatasi penghalang awal yang berpotensi untuk penyebaran wabah. Hal ini menurut studi dari University of North Carolina di Chapel Hill.

Pekerjaan yang dipimpin oleh Ralph Baric, Ph.D., profesor epidemiologi di UNC Gillings School of Global Public Health tersebut, berada di ambang dua wabah yang terjadi baru-baru ini, Ebola dan Zika, yang belum ada vaksinnya. Gabungan kedua wabah ini merenggut ribuan nyawa dan merugikan miliaran biaya.

“Kapasitas kelompok virus baru ini untuk melompat ke manusia lebih besar dari yang diperkirakan,” kata Vineet Menachery, Ph.D., penulis pertama studi tersebut. “Sementara adaptasi lainnya mungkin diperlukan untuk menghasilkan sebuah epidemi, beberapa strain virus yang beredar di populasi kelelawar telah mengatasi hambatan replikasi di dalam sel manusia dan diduga akan muncul kembali sebagai kemungkinan yang berbeda.”

Baric dan Menachery bekerja dengan urutan genom koronavirus mirip SARS, yang diisolasi dari kelelawar tapal kuda Cina, di mana SARS berasal. Berdasarkan urutan genom, mereka merekonstruksi virus untuk mengevaluasi potensinya menginfeksi sel manusia dan tikus. Mereka menemukan bahwa virus yang baru diidentifikasi ini, dikenal sebagai WIV1-CoV, dapat berikatan pada reseptor yang sama seperti SARS-CoV. Mereka juga menunjukkan bahwa virus baru ini mudah dan efisien direplikasi di kultur jaringan saluran napas manusia, menunjukkan kemungkinan kemampuannya untuk melompat langsung ke manusia.

“Untuk jelasnya, virus ini mungkin tidak akan pernah melompat ke manusia, tetapi jika terjadi, WIV1-CoV memiliki potensi sebagai benih wabah baru dengan konsekuensi yang signifikan bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi global,” kata Vineet, yang karyanya dilaporkan di Prosiding National Academy of Sciences versi online, 13 Maret 2016.

Tim peneliti juga menemukan bahwa antibodi yang dikembangkan untuk mengobati SARS, efektif melawan WIV1-CoV di kedua sampel jaringan manusia dan hewan, menyediakan pilihan pengobatan yang ampuh jika ada wabah. Namun, keterbatasan untuk mengobati dengan antibodi adalah sama dengan Zmapp (pendekatan antibodi yang digunakan untuk Ebola), yaitu memproduksinya dalam skala yang cukup besar untuk mengobati banyak orang. Juga, dalam hal pencegahan, vaksin yang ada terhadap SARS tidak akan memberikan perlindungan untuk virus baru ini karena ada sedikit perbedaan pada urutan genom virus.

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), pertama kali terlihat pada wabah di tahun 2002 dan mengakibatkan 8.000 kasus dan hampir 800 kematian. Menyebar melalui kontak udara, gejala awalnya mirip flu dengan batuk kering tetapi dapat secara cepat menjadi pneumonia, mengisi paru-paru dengan cairan dan memberikan stres pada sistem kekebalan tubuh.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, tingkat kematian SARS dapat berkisar kurang dari satu persen pada pasien di bawah 24 tahun, hingga lebih dari 50 persen pada pasien berusia 60 dan lebih tua. Baric dan timnya percaya bahwa WIV1-CoV memiliki potensi untuk menginduksi hasil yang sama dengan adaptasi yang tepat terhadap manusia.

“Jenis penelitian ini menghasilkan informasi tentang virus baru yang beredar di populasi hewan dan mengembangkan sumber daya untuk membantu menentukan ancaman yang dapat ditimbulkan patogen ini pada populasi manusia,” kata Baric.

“Sangat penting untuk dicatat bahwa hal ini bukan pendekatan yang terbatas untuk SARS atau virus mirip SARS. Hal ini dapat diterapkan untuk patogen lainnya yang akan muncul agar dapat membantu kita bersiap, apakah itu MERS, virus Zika atau sesuatu yang bahkan belum pernah kita dengar sebelumnya,” pungkas Baric, seperti dilansir University of North Carolina at Chapel Hill (14/03/2016).

Referensi Jurnal :

Vineet D. Menachery, Boyd L. Yount Jr., Amy C. Sims, Kari Debbink, Sudhakar S. Agnihothram, Lisa E. Gralinski, Rachel L. Graham, Trevor Scobey, Jessica A. Plante, Scott R. Royal, Jesica Swanstrom, Timothy P. Sheahan, Raymond J. Pickles, Davide Corti, Scott H. Randell, Antonio Lanzavecchia, Wayne A. Marasco, and Ralph S. Baric. SARS-like WIV1-CoV poised for human emergence. PNAS, March 14, 2016 DOI: 10.1073/pnas.1517719113.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here