glikoprotein virus ebola, antibodi monoklonal
Glikoprotein permukaan virus ebola (biru) ditunjukkan terikat oleh antibodi pelindung mAb 114 (pink / putih) dan mAb100 (ungu / putih).(Credit: NIAID)

Bhataramedia.com – Para ilmuwan di National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), bagian dari National Institutes of Health, dan rekan-rekannya telah menemukan bahwa antibodi monoklonal tunggal (suatu protein yang menyerang virus) yang diisolasi dari virus Ebola manusia yang selamat, dapat melindungi primata non-manusia ketika diberikan hingga paling lambat lima hari setelah infeksi ebola yang mematikan.

Antibodi tersebut sekarang dapat maju ke pengujian pada manusia sebagai pengobatan yang potensial untuk penyakit virus Ebola. Saat ini tidak ada perawatan berlisensi untuk infeksi Ebola, yang menyebabkan lebih dari 11.000 kematian pada wabah tahun 2014-2015 di Afrika Barat. Temuan ini dijelaskan dalam dua artikel yang dipublikasikan secara online oleh jurnal Science pada tanggal 25 Februari.

Peneliti NIAID memperoleh dan menguji sampel darah dari orang yang selamat pada wabah Ebola 1995 di Kikwit, Republik Demokratik Kongo, dan menemukan bahwa korban mendapatkan antibodi terhadap Ebola. Peneliti dari Research in Biomedicine di Swiss kemudian mengisolasi antibodi spesifik untuk digunakan sebagai terapi potensial terhadap infeksi Ebola.

Para peneliti dari Amerika Serikat Army Medical Research Institute of Infectious Diseases memberikan dosis mematikan dari Zaire ebolavirus pada empat kera rhesus, menunggunya lima hari, dan kemudian merawat tiga dari kera dengan suntikan intravena harian antibodi monoklonal, yang dikenal sebagai mAb114, selama tiga hari berturut-turut.

Kera kontrol yang tidak diobati menunjukkan indikator penyakit virus Ebola dan meninggal pada hari sembilan, tapi kelompok yang diberi perlakuan selamat dan tetap bebas dari gejala Ebola.

Peneliti NIAID dan Dartmouth College kemudian mempelajari bagaimana mAb114 menetralkan virus Ebola dan menentukan bahwa mAb114 mengikat inti dari glikoprotein Ebola, sehingga menghalangi interaksi dengan reseptor pada sel manusia. Daerah glikoprotein Ebola, yang disebut daerah pengikatan reseptor, sebelumnya dianggap tidak terjangkau oleh antibodi karena tersembunyi dengan baik oleh bagian lain dari virus, dan hanya menjadi terekspos setelah virus memasuki bagian dalam sel.

Dilansir NIH/National Institute of Allergy and Infectious Diseases (25/02/2016), ini adalah antibodi pertama yang menunjukkan kemampuan untuk menetralisir virus dengan interaksi antara virus dan reseptor selularnya. Bersama-sama, bukti-bukti ini telah mengidentifikasi suatu situs kerentanan baru pada virus Ebola dan menyarankan mAb114 dapat menjadi terapi yang efektif dan membutuhkan eksplorasi lebih lanjut, menurut penulis.

Referensi Jurnal :

  1. D Corti et al. Protective Monotherapy Against Lethal Ebola Virus Infection by a Potent Neutralizing Antibody. Science, 2016 DOI: 10.1126/science.aad5224.
  2. J Misasi et al. Structural and Molecular Basis for Ebola Virus Neutralization by Protective Human Antibodies. Science, 2016 DOI: 10.1126/science.aad6117.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here