model iklim, laoisan es, antartika
Para penulis menyatakan bahwa secara bersama-sama, temuan dari makalah pendamping di PNAS menyoroti bahwa perubahan besar di lapisan es Antartika akan menjadi mungkin pada tingkat karbon dioksida yang lebih rendah di atmosfer, dibandingkan yang telah dittunjukkan studi sebelumnya.(Credit: UMass Amherst)

Bhataramedia.com – Hasil dari rekonstruksi iklim yang baru tentang bagaimana es Antartika merespon selama periode terakhir ketika karbon dioksida atmosfer (CO2) mencapai level yang diduga aka terjadi sekitar 30 tahun ke depan, ditambah temuan sedimen inti yang dilaporkan pada makalah pendamping, menunjukkan bahwa lapisan es lebih rentan terhadap meningkatnya CO2 di atmosfer daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Rincian tersebut muncul pada dua naskah ilmiah yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences.

Para peneliti yang dipimpin oleh Edward Gasson dan Robert DeConto dari University of Massachusetts Amherst, dengan rekan-rekannya di Pennsylvania State University dan GNS Science, New Zealand, melaporkan hasil studi pemodelan iklim dan lapisan es. Sementara Richard Levy dari Selandia Baru dan rekan-rekannya di program National Science Foundation’s Antarctic drilling (ANDRILL), melaporkan analisis mereka pada sedimen inti dengan yang didapatkan dari kedalaman 3.735 kaki di McMurdo Sound untuk merekonstruksi sejarah es Antartika.

Penulis menyatakan bahwa secara bersama-sama, temuan menyoroti bahwa perubahan besar di lapisan es Antartika akan menjadi mungkin pada tingkat karbon dioksida atmosfer yang lebih rendah dari studi sebelumnya.

Gasson menjelaskan bahwa peneliti iklim telah lama berusaha untuk membuat model yang mensimulasikan kondisi serupa dengan yang dialami selama awal hingga pertengahan-Miosen, sebagaimana ditetapkan melalui data sedimen inti. Saat ini tingkat CO2 di atmosfer sedikit lebih tinggi, pada 500 bagian per juta (ppm), dibandingkan tingkat 400 ppm yang dicapai tahun lalu, dan suhu rata-rata global sekitar 3 sampai 4 derajat Celsius lebih tinggi dari hari ini.

Tetapi, tidak berarti bahwa pencairan lapisan es Antartika akan segera menaikkan permukaan laut global, kata para peneliti.

“Lembaran es akan mengambil ratusan tahun untuk merespon, sehingga meskipun CO2 mungkin pada tingkat yang sama seperti selama Miosen pada 30 tahun ke depan, tidak berarti bahwa mereka akan mencair dalam 30 tahun,” tambah Gasson, seperti dilansir University of Massachusetts at Amherst (22/02/2016).

Memahami bagaimana lapisan es besar Antartika akan menanggapi pemanasan tersebut adalah tujuan utama bagi para ilmuwan iklim. “Kami mengetahui bahwa lapisan es Antartika akhirnya akan mencair jika kita membakar semua cadangan bahan bakar fosil yang diketahui, meningkatkan permukaan air laut lebih dari 100 kaki. Apa yang dua studi ini tunjukkan adalah lapisan es Antartika juga rentan terhadap tingkat yang jauh lebih rendah dari karbon dioksida dari yang kita duga sebelumnya. ”

Usaha-usaha sebelumnya untuk mensimulasikan mencairnya lapisan es Antartika belum memadai, karena meskipun bukti geologi langsung mengenai perubahan lapisan es yang didorong oleh perubahan kecil CO2 di atmosfer terjadi, sulit bagi simulasi komputer untuk memodelkannya.

Model dari Gasson dan rekan-rekannya, mencakup tiga strategi kunci baru yang dapat meningkatkan simulasi tersebut. Secara khusus, Gasson dan rekan-rekannya menggunakan komponen yang menangkap umpan balik antara lapisan es dan iklim yang lebih baik dari sebelumnya. Para ilmuwan menunjukkan bahwa pekerjaan mereka “sebagian besar menyelesaikan perbedaan antara catatan geologi dan model lapisan es yang sebelumnya telah ada.”

Referensi Jurnal :

  1. Richard Levy, David Harwood, Fabio Florindo, Francesca Sangiorgi, Robert Tripati, Hilmar von Eynatten, Edward Gasson, Gerhard Kuhn, Aradhna Tripati, Robert DeConto, Christopher Fielding, Brad Field, Nicholas Golledge, Robert McKay, Timothy Naish, Matthew Olney, David Pollard, Stefan Schouten, Franco Talarico, Sophie Warny, Veronica Willmott, Gary Acton, Kurt Panter, Timothy Paulsen, Marco Taviani, and SMS Science Team. Antarctic ice sheet sensitivity to atmospheric CO2 variations in the early to mid-Miocene. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2016; DOI: 10.1073/pnas.1516030113.
  2. Edward Gasson, Robert M. DeConto, David Pollard, and Richard H. Levy. Dynamic Antarctic ice sheet during the early to mid-Miocene. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2016; DOI: 10.1073/pnas.1516130113.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here