tanaman, kekeringan
Ilustrasi.

Bhataramedia.com – Perubahan iklim dapat mempengaruhi segala sesuatu, dari wabah serangga hingga naiknya permukaan air laut di Papua Nugini. Dalam menghadapi bumi yang berubah dengan cepat, tanaman dan hewan dipaksa untuk secara cepat menghadapi tantangan baru jika mereka berharap untuk bertahan hidup. Menurut makalah baru-baru ini oleh Jason Fridley, profesor biologi di Syracuse University College of Arts and Sciences, serta dicetak oleh SU Ph.D. Catherine Ravenscroft, dan profesor University of Liverpool Raj Whitlock; beberapa spesies mungkin dapat menangani perubahan lingkungan lebih baik daripada yang lain.

Fridley menjelaskan bahwa spesies memiliki beberapa pilihan untuk mengatasi stres yang berhubungan dengan perubahan lingkungan: mereka dapat memilih dan pindah ke daerah yang lebih menguntungkan, atau mereka dapat bertahan dan beradaptasi dengan tantangan baru. Kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim adalah fokus utama dari studi ini.

Ribwort plantain dan sheep fescue, dua tanaman umum di lokasi penelitian, menunjukkan tanda-tanda untuk dapat menjawab tantangan yang disebabkan iklim. “Ada bukti diferensiasi genetik melalui peerlakuan iklim jangka panjang,” kata Ravenscroft. Dia menjelaskan bahwa perbedaan genetik telah tercipta di antara tanaman yang diberi perlakuan iklim, dibandingkan tanaman yang tidak diberi perlakuan di lokasi penelitian.

Terlebih lagi, perubahan pada tingkat gen terjadi sangat cepat. Karena tanaman tersebut adalah spesies abadi, yang berarti mereka hidup dan berkembang biak untuk beberapa musim, Fridley memperkirakan hanya ada sekitar 10 generasi tanaman selama percobaan 15 tahun.

Untuk mengidentifikasi bagaimana tanaman merespon perubahan lingkungan, tim mencari perbedaan genetik pada tanaman yang diberi perlakuan dan tanaman yang tidak. Secara khusus, para peneliti menyelidiki daerah acak dari genom tanaman untuk melihat berapa banyak perbedaan susunan genetik dari tanaman yang diberi perlakuan dan tidak.

“Apakah Anda memiliki perubahan keanekaragaman genetik terhadap perlakuan atau apakah Anda memiliki diferensiasi terhadap perlakuan?” kata Ravenscroft, menguraikan pertanyaan utama penelitian. “Jawaban dari penelitian ini adalah ‘ya’ dan ‘ya’.”

Pola diferensiasi dan perubahan genetik yang cepat menunjukkan bahwa kedua spesies memulai dengan kolam variasi genetik. Keragaman genetik menawarkan ketahanan populasi tanaman terhadap dunia yang cepat berubah. Hasil ini menggambarkan bahwa variasi genetik yang sudah ada dapat memberikan keuntungan pada tanaman dalam terhadap tantangan ikli. “Ini memperkuat gagasan bahwa keragaman mendukung ketahanan dalam menghadapi perubahan iklim,” je;as Ravenscroft, tetapi dia juga menunjukkan bahwa tidak semua spesies dapat beruntung.

Kapasitas tanaman ‘untuk merespon tantangan dapat menunjukkan kegigihan mereka di masa depan pada studi ekosistem. “Akhirnya muncul spesies yang lebih beradaptasi dengan kekeringan dan mendorong sistem menuju arah yang baru, seperti tanaman yang digunakan pada penelitian memiliki ciri-ciri fisik yang mampu beradaptasi dengan kekeringan, kecuali untuk beberapa spesies,” jelas Fridley.

Dia menambahkan bahwa ini adalah suatu proses yang terjadi di seluruh dunia dalam menanggapi perubahan iklim.

Penelitian perubahan iklim ini dilakukan di pedesaan Inggris, di suatu lokasi penelitian ekologi jangka panjang. Lebih dari 15 tahun yang lalu, sekelompok ilmuwan Inggris mendirikan percobaan untuk mengungkap dampak perubahan iklim. Secara buatan, mereka mengontrol suhu dan ketersediaan air di sebidang tanah.

“Tidak ada yang seperti ini di dunia,” kata Fridley, seperti dilansir Syracuse University (10/12/2015).

Referensi Jurnal :

Catherine H. Ravenscroft, Raj Whitlock, Jason D. Fridley. Rapid genetic divergence in response to 15 years of simulated climate change. Global Change Biology, 2015; 21 (11): 4165 DOI: 10.1111/gcb.12966.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here