ikan, terumbu karang
Ikan di terumbu kaang osprey, Papua.(Credit: Catlin Seaview Survey)

Bhataramedia.com – Studi baru menunjukkan bahwa lebih dari 17.000 spesies laut di seluruh dunia sebagian besar tidak terlindungi. Amerika Serikat merupakan salah satu Negara peringkat bawah dalam mendukung kawasan perlindungan laut (KPL) yang dapat melindungi keanekaragaman hayati laut.

Penelitian yang merupakan penilaian komprehensif pertama mengenai cakupan kawasan lindung pada kehidupan laut tersebut, muncul di jurnal nternasional Scientific Reports. Penulis termasuk ilmuwan dari University of Queensland, Australian Research Council Centre of Excellence for Environmental Decisions (Ceed), UC Santa Barbara, National Center for Ecological Analysis and Synthesis, Imperial College London dan Wildlife Conservation Society.

Para penulis melihat rentang dari 17.348 spesies kehidupan laut, termasuk ikan paus, hiu dan ikan pari, dan menemukan bahwa 97,4 persen memiliki kurang dari 10 persen yang terwakili di daerah perlindungan laut. Negara dengan jumlah terbesar dari spesies yang berada di luar kawasan lindung termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil.

Meskipun memprihatinkan, penulis mengatakan studi ini menggarisbawahi peluang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Konvensi Keanekaragaman Hayati untuk melindungi 10 persen dari keanekaragaman hayati laut pada tahun 2020. Sebagai contoh, mayoritas spesies yang dianggap sangat kurang terwakili (kurang dari dua persen ditemukan di daerah perlindungan laut) ditemukan dalam zona ekonomi eksklusif. Hal ini menunjukkan peran penting bagi negara-negara tertentu untuk melindungi keanekaragaman hayati.

“Proses pembentukan kawasan perlindungan laut (KPL) bukan hal yang sepele karena dapat mempengaruhi mata pencaharian. Penting bahwa kawasan perlindungan baru dapat melindungi keanekaragaman hayati, sembari meminimalkan dampak sosial dan ekonomi yang negatif. Hasil penelitian ini menawarkan bimbingan strategis dimana KPL dapat ditempatkan untuk melindungi keanekaragaman hayati laut. ” kata penulis utama studi tersebut, Dr. Carissa Klein dari University of Queensland dan Ceed, seperti dilansir Wildlife Conservation Society (03/12/2015).

Para penulis mengatakan bahwa sangat penting bagi KPL baru untuk dapat secara sistematis diidentifikasi dan mempertimbangkan apa yang telah dilindungi di tempat lain, selain biaya sosial ekonomi dari implementasi, kelayakan keberhasilan, serta aspek lain yang mendorong keanekaragaman hayati.

“Peningkatan jumlah KPL dalam beberapa tahun terakhir sangat menggembirakan, tetapi sebagian besar peningkatan ini berasal dari beberapa KPL yang sangat besar,” kata Dr. Ben Halpern dari UC Santa Barbara dan NCEAS. “KPL yang sangat besar memberikan nilai penting, tetapi salah kalau kita berpikir keanekaragaman hayati sedang dilindungi dengan baik karena kawasan ini. Spesies di seluruh planet ini membutuhkan perlindungan, bukan hanya spesies yang ada di beberapa lokasi. Hasil kami menunjukkan di mana kesenjangan perlindungan berada .”

“Oleh karena kebanyakan keanekaragaman hayati laut masih sangat kurang terwakili, tugas menerapkan jaringan KPL yang efektif segera dibutuhkan. Mencapai tujuan ini tidak hanya penting untuk alam, tetapi juga untuk kemanusiaan, karena jutaan orang bergantung pada keanekaragaman hayati laut,” kata rekan penulis Dr. James Watson dari WCS dan University of Queensland.

Referensi Jurnal :

Carissa J. Klein, Christopher J. Brown, Benjamin S. Halpern, Daniel B. Segan, Jennifer McGowan, Maria Beger, James E.M. Watson. Shortfalls in the global protected area network at representing marine biodiversity. Scientific Reports, 2015; 5: 17539 DOI: 10.1038/srep17539.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here