gula darah, diabetes
Ilustrasi.

Bhataramedia.com – Para peneliti di University of Exeter telah mengembangkan tes baru untuk membantu diagnosa diabetes, yang dapat menuju pada diagnosis dan perawatan pasien yang lebih efektif.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Diabetes Care tersebut, menunjukkan bagaimana tes genetik dapat membantu dokter untuk membedakan antara diabetes tipe 1 dan tipe 2 pada orang dewasa muda.

Seiring meningkatnya tingkat obesita,  kadang-kadang sulit bagi dokter untuk membedakan antara diabetes tipe 1, yang memerlukan pengobatan dengan suntikan insulin dan diabetes tipe 2, yang dapat dikontrol melalui diet dan penurunan berat badan. Tim peneliti Exeter telah menyusun skor risiko genetik yang dapat membantu mengidentifikasi orang dengan usia antara 20 dan 40 tahun yang akan memerlukan pengobatan insulin.

“Temuan ini akan menjadi tambahan penting untuk secara benar mengklasifikasikan individu dengan diabetes dan akan meningkatkan jumlah orang yang mendapatkan pengobatan yang tepat ketika mereka pertama kali didiagnosis, terutama orang-orang yang berada di antara di antara diagnosa diabetes tipe 1 dan tipe 2,” kata Dr. Richard Oram, dosen di National Institute for Health Research Clinical dan spesialis di bidang Diabetes dan Nephrology, University of Exeter Medical School.

“Seringkali tidak ada jalan kembali setelah pengobatan insulin dimulai. Penelitian ini dapat menyelamatkan orang-orang dengan diabetes tipe 2 dari pengobatan insulin yang tidak perlu. Selain itu, juga menghentikan kejadian langka namun serius dari orang-orang dengan diabetes tipe 1 yang awalnya diobati dengan tablet yang tidak tepat dan meningkatkan risiko bertambah parahnya penyakit.”

Pada penelitian yang didukung oleh NIHR dan Wellcome Trust, para peneliti Exeter merancang tes yang mengukur 30 varian genetik dalam DNA dan menggabungkan semua risiko yang terkait dengan mereka dalam skor tunggal, yang kemudian dapat bertindak sebagai ringkasan risiko genetik untuk diabetes tipe 1 . Jika skor seseorang tinggi, mereka cenderung memiliki diabetes tipe 1, jika rendah maka diabetes tipe 2.

Para peneliti percaya ini akan memberikan informasi tambahan penting bagi dokter ketika membuat diagnosis dan menyarankan bahwa tes ini dapat digunakan sebagai tambahan tes yang biasa digunakan dengan mengukur antibodi.

Dr Oram mengatakan bahwa diagnosa baru ini kan bermanfaat bagi pemahaman pasien dan sikap terhadap kondisi mereka. “Memiliki informasi mengenai diabetes mereka dan tentang risiko genetik mereka akan membuat perbedaan besar terhadap cara orang merasakan tentang perawatan mereka. Jika Anda berbicara dengan orang-orang dengan diabetes mereka sering ingin tahu mengapa mereka telah mengembangkan penyakit dan apakah beberapa risiko untuk penyakit ini adalah genetik.”

Tim peneliti Exeter saat ini bekerja untuk mengembangkan sebuah tes dapat dilakukan di setiap laboratorium klinis dengan murah dan cepat.

Dilansir University of Exeter (17/11/2015), Dr. Mike Weedon, mengatakan: “Kami pikir ini adalah contoh yang sangat baik mengenai hasil dari studi genetik skala besar dan menerjemahkannya ke dalam praktek klinis dan perbaikan perawatan pasien.”

Referensi Jurnal :

Richard A. Oram, Kashyap Patel, Anita Hill, Beverley Shields, Timothy J. McDonald, Angus Jones, Andrew T. Hattersley, and Michael N. Weedon. A Type 1 diabetes genetic risk score can aid discrimination between Type 1 and Type 2 diabetes in young adults. Diabetes Care, November 2015 DOI: 10.2337/dc15-1111.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here