Bhataramedia.com – Oksitosin telah disebut sebagai “hormon cinta” karena memainkan peran penting dalam perilaku sosial, seperti perhatian sang ibu pada anak dan ikatan antar pasangan. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Cell Press pada 9 Oktober di jurnal Cell, para peneliti mengungkap adanya sel-sel otak responsif oksitosin yang diperlukan untuk kepentingan sosial tikus betina pada tikus jantan selama estrus, yaitu fase reseptif secara seksual dari siklus mereka. Neuron ini, ditemukan di korteks prefrontal, dan kemungkinan memainkan peran dalam perilaku sosial lainnya yang berhubungan dengan oksitosin seperti keintiman, cinta, atau ikatan ibu-anak.

“Temuan kami menunjukkan bahwa interaksi sosial yang merangsang produksi oksitosin akan merekrut sirkuit yang baru diidentifikasi ini untuk membantu mengkoordinasikan tanggapan perilaku kompleks yang ditimbulkan oleh perubahan situasi sosial di semua mamalia, termasuk manusia,” kata peneliti senior Nathaniel Heintz The Rockefeller University, seperti dilansir EurekaAlert! (9/10/2014). “Investigasi selanjutnya mengenai mekanisme yang secara tepat bertanggung jawab untuk mengaktivasi sirkuit yang menarik ini dapat memberikan wawasan tentang gangguan spektrum autisme dan gangguan perilaku sosial lainnya.” Tambahnya.

Neuron responsif oksitosin yang ditemukan di banyak struktur otak ini, menyoroti pentingnya hormon untuk berbagai perilaku sosial. Namun, sebelumnya masih tidak jelas mengenai sel yang ditargetkan oleh oksitosin, atau bagaimana hormon dapat mempengaruhi sirkuit saraf.

Satu petunjuk potensial datang ketika penulis utama studi ini, Miho Nakajima, peneliti dari Rockefeller University, menemukan populasi neuron di korteks prefrontal medial yang mengekspresikan reseptor oksitosin. Ketika para peneliti mengganggu aktivitas neuron tersebut, tikus betina kehilangan minat pada tikus jantan selama estrus dan menghabiskan waktunya di blok Lego plastik. Sebaliknya, tikus betina ini mempertahankan tingkat normal kepentingan sosialnya pada tikus betina lain selama estrus, dan pada tikus jantan bila tidak estrus. Selain itu, perilaku sosial tikus jantan ternyata tidak terpengaruh oleh penonaktifan neuron ini.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa ada kelas baru neuron responsif oksitosin yang mengatur aspek penting dari perilaku sosial tikus betina. “Pekerjaan kami menyoroti pentingnya korteks prefrontal dalam perilaku sosial dan seksual dan menunjukkan bahwa populasi sel kritis ini dapat memediasi aspek perilaku lainnya dalam menanggapi tingkat oksitosin tinggi yang terjadi di berbagai konteks yang berbeda,” kata Heintz.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here