DNA, metilasi
Ilustrasi, DNA

Bhataramedia.com – Pada suatu penemuan yang dapat mengarah pada pengobatan yang lebih tertarget dan efektif untuk kanker paru-paru dan prostat tertentu, para peneliti di University of Virginia School of Medicine telah mengidentifikasi dua mutasi gen baru penyebab kanker. Mutasi yang mungkin sangat rentan terhadap obat kanker yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration. Salah satu mutasi gen kemungkinan juga memainkan peran kunci dalam menopause dini.

‘Palu yang Sempurna’

Penemuan ini menunjukkan bahwa kanker dengan mutasi di gen MCM8 dan MCM9, kemungkinan akan merespon sangat baik terhadap obat kemoterapi yang sama, yang telah terbukti efektif melawan kanker payudara dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 yang sudah dikenal.

“Salah satu masalah terbesar pada kanker adalah kita memukul segala sesuatu dengan ‘palu’ yang sama, dan akibatnya beberapa jenis kanker bersifat responsif dan jenis yang lainnya tidak. Bayangkan jika Anda dapat menemukan ‘palu’ yang sempurna untuk terapi personal,” kata pemimpin peneliti, Anindya Dutta, MD, Ph.D., dari Cancer Center UVA.

“Jika pasien memiliki mutasi BRCA1 dan BRCA2, maka ‘palu’ yang sempurna adalah cisplatin dan olaparib. Demikian pula, untuk kanker lainnya, jika Anda dapat ‘mematahkan’ kanker dengan mutasi pada MCM8 dan MCM9, dan kemudian memukulnya sangat keras dengan olaparib dan cisplatin, kami memperkirakan bahwa akan ada respon yang jauh lebih baik,” lanjut Dutta, seperti dilansir University of Virginia Health System (23/09/2015).

Hilangnya ‘Tukang’ Perbaikan DNA

Penelitian baru yang dilakukan Dutta menunjukkan bahwa gen MCM8 dan MCM9 memproduksi protein yang memainkan peran penting dalam rekombinasi homolog. Suatu metode yang digunakan sel untuk memperbaiki putusnya untai ganda dalam DNA kita. Pemutusaan tersebut diduga terjadi umum, mungkin ribuan kali dalam hidup setiap sel, tetapi protein perbaikan penting tampaknya hilang pada kanker dengan mutasi MCM8 dan MCM9. Kecacatan ini dapat menjadi kejatuhan sel-sel kanker, secara teoritis membuat mereka “luar biasa sensitif” untuk cisplatin dan obat lain yang sudah dikembangkan untuk pertempuran terhadap mutasi BRCA1 dan BRCA2, kata Dutta, ketua Departemen Biochemistry and Molecular Genetics UVA.

Sampai saat ini, tidak ada tes diagnostik yang tersedia secara komersial untuk mutasi MCM8 dan MCM9, meskipun dapat terungkap melalui sekuensing genom keseluruhan. Dutta, bagaimanapun, mengatakan bahwa tes yang lebih sederhana dapat dirancang. Dia juga ingin melihat percobaan klinis untuk menentukan efektivitas cisplatin dan olaparib dalam memerangi kanker dengan mutasi MCM8 dan MCM9.

Penelitian Dutta juga mencatat korelasi inaktivasi genetik dari gen MCM8 dan onset awal menopause, yang juga dikenal sebagai kegagalan ovarium prematur. Hal ini akan memberikan para ilmuwan jalan baru untuk mengeksplorasi seiring usaha untuk lebih memahami kondisi tersebut.

Referensi Jurnal :

Seema S. Lakdawala, Akila Jayaraman, Rebecca A. Halpin, Elaine W. Lamirande, Angela R. Shih, Timothy B. Stockwell, Xudong Lin, Ari Simenauer, Christopher T. Hanson, Leatrice Vogel, Myeisha Paskel, Mahnaz Minai, Ian Moore, Marlene Orandle, Suman R. Das, David E. Wentworth, Ram Sasisekharan, Kanta Subbarao. The soft palate is an important site of adaptation for transmissible influenza viruses. Nature, 2015; DOI: 10.1038/nature15379.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here