Bhataramedia.com – Kebudayaan yang dimiliki suatu daerah memang sering menjadi pemicu munculnya sejumlah objek wisata yang diharapkan dapat melestarikan nilai kebudayaan yang ada di daerah tersebut. Candi merupakan salah satu alat yang digunakan untuk menunjukkan kebudayaan yang terdapat di daerah tersebut pada waktu sebelumnya, sebab seperti yang kita pahami bahwa candi telah dibangun dan berada di atas tanah itu sejak beberapa tahun lalu lamanya. Terkait dengan hal ini, banyak candi yang sudah tidak berbentuk lagi karena termakan usia. Banyak proses pemugaran dan renovasi yang dilakukan terhadap candi yang memiliki kondisi yang memprihatinkan yang dimaksudkan untuk mempertahankan keutuhan yang seharusnya dimiliki oleh candi tersebut.

Salah satu candi yang telah mengalami proses pemugaran dan renovasi adalah Candi Kalasan. Candi Kalasan terletak di sebelah selatan jalan utama Jogja-Solo, sehingga ketika menyusuri Jalan Jogja-Solo, keindahan Candi Kalasan dapat sedikit terlihat di balik rimbunnya pepohonan yang terdapat di area sekitar Candi Kalasan. Tidak sampai satu jam berkendara dari Yogyakarta untuk menuju ke candi ini. Walaupun tidak begitu luas seperti Candi Prambanan atau Candi Borobudur, Candi Kalasan memiliki sebuah ketertarikan sendiri yang membuat pengunjung berdatangan ke sana. Fakta bahwa Candi Kalasan merupakan candi Buddha tertua yang ada di Indonesia membuat para pengunjung yang merupakan turis dalam atau luar negeri memiliki rasa penasaran yang tinggi.

Cerita di Balik Candi Kalasan

Candi Kalasan memiliki sebuah cerita menarik seperti yang tertuang dalam Prasasti Kalasan. Isi prasasti tersebut adalah tentang pembangunan sebuah tempat suci yang digunakan untuk melakukan pemujaan terhadap Dewi Tara dan para umat Buddha untuk berdoa. Hal ini menarik mengingat umat Hindu dan umat Buddha memiliki ajaran yang cukup berbeda. Tentunya peristiwa ini tidak dibuat secara kebetulan, pasti ada alasan yang lebih menjelaskan makna dari kejadian tersebut. Usut punya usut, pada jaman dahulu teradi sebuah peleburan kerajaan yang menganut dua ajaran agama yang berbeda, yaitu Dinasti Sanjaya yang menganut agama Hindu dan Dinasti Syailendra yang menganut agama Buddha. Yang membuat kedua kerajaan yang besar pada masanya ini adalah pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. Oleh sebab itu, Candi Kalasan kemudian dibangun dengan maksud dan tujuan sebagai pemersatu antara kedua agama tersebut. Walaupun demikian, struktur Candi Kalasan lebih mengarah ke corak Buddha dengan adanya stupa di bagian puncak Candi Kalasan yang mana merupakan salah satu ciri khas dari candi yang bercorak Buddha.

Keunikan Candi Kalasan

Selain fakta yang menyebutkan bahwa Candi Kalasan merupakan simbol kedamaian yang tercipta saat kerajaan Hindu dan Buddha sama-sama berkuasa di jamannya, masih terdapat sejumlah keunikan lainnya yang membuat Candi Kalasan layak dikunjungi sebagai salah satu tujuan wisata ketika sedang berlibur di Yogyakarta atau Solo. Jika dilihat lebih dekat atau diraba, relief pada Candi Kalasan akan terasa sangat lembut dan halus sehingga pengunjung hampir tidak menyadari bahwa relief itu terbuat dari batu yang biasanya memiliki tekstur yang kasar. Hal ini disebabkan oleh pelapis dinding relief tersebut yang disebut vajralepa. Vajralepa merupakan getah yang berasal dari tanaman berwarna kuning yang berfungsi sebagai perekat dan juga pelapis untuk mempertahakan keindahan ukiran yang terdapat pada relief Candi Kalasan. Hingga hari ini, masyarakat di sekitar area Candi Kalasan mengenal kegiatan melapisi dinding tersebut dengan ‘ngelepo’. Mereka juga melakukannya pada dinding rumah mereka dengan maksud dan tujuan yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here