virus MERS
Protein amplop partikel Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus yang dilabeli dengan antibodi primer Rabbit HCoV-EMC/2012 dan partikel emas Goat anti-Rabbit 10 nm.(Credit: NIAID)

Bhataramedia.com –¬†Vaksin DNA sintetik baru, untuk pertama kalinya, dapat menginduksi kekebalan protektif terhadap Middle East Respiratory Syndrome (MERS) coronavirus pada spesies hewan. Temuan ini dilaporkan peneliti dari Perelman School of Medicine di University of Pennsylvania.

David B. Weiner Ph.D., seorang profesor Patologi dan Laboratory Medicine, serta rekan-rekannya menerbitkan karya mereka di Science Translational Medicine (STM) pekan ini. Vaksin pencegahan eksperimental tersebut, yang diberikan enam minggu sebelum paparan virus MERS, telah ditemukan sepenuhnya melindungi kera rhesus dari penyakit. Vaksin ini juga menghasilkan antibodi pelindung yang berpotensi dalam darah yang diambil dari unta, sumber dari transmisi MERS di Timur Tengah.

MERS disebabkan oleh munculnya coronavirus manusia, yang berbeda dari coronavirus SARS. Sejak identifikasi pada tahun 2012, MERS telah dikaitkan dengan lebih dari 1.300 infeksi dan hampir 400 kematian. Hal ini telah terjadi di Semenanjung Arab, Eropa dan di Amerika Serikat

Wabah yang baru-baru ini terjadi Korea Selatan menjadi perhatian besar, karena infeksi menyebar dari pasien tunggal hingga menginfeksi lebih dari 181 orang. Kejadian ini mengakibatkan penutupan rumah sakit, dampak ekonomi yang parah dan lebih dari 30 kematian. Selama wabah terjadi, penularan dari manusia ke manusia yang paling cepat tercatat pada transmisi di rumah sakit, rute yang paling umum dari infeksi.

“Peningkatan kasus MERS yang signifikan baru-baru ini, ditambah dengan kurangnya terapi antivirus yang efektif atau vaksin untuk mengobati atau mencegah infeksi ini, telah menimbulkan kekhawatiran yang signifikan,” kata Weiner. “Dengan demikian pengembangan vaksin untuk MERS tetap menjadi prioritas tinggi.”

Vaksin tersebut mampu mencegah penyakit MERS pada monyet dan memberikan keuntungan pada 100 persen dari hewan-hewan dalam penelitian ini, dalam hal meminimalkan gejala-gejala. Selain itu, vaksin ini menginduksi antibodi yang terkait dengan perlindungan pada unta, spesies yang diduga menjadi sumber utama penularan ke manusia di Timur Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin ini dapat digunakan untuk menghentikan siklus transmisi MERS. Di lapangan, kata para peneliti, vaksin ini dapat menurunkan penyebaran infeksi dari orang ke orang ketika terjadi wabah dan membantu melindungi petugas kesehatan atau individu yang terpapar.

“Penelitian ini terjadi karena kerjasama antara kelompok peneliti internasional dengan keterampilan yang diperlukan, termasuk, lab Heinz Feldman di NIH, Gary Kobinger dari pemerintah Kanada, ilmuwan dari Inovio yang mengembangkan teknologi pengiriman plasmid, bersama dengan rekan-rekan dari Penn,” kata penulis pertama, Karuppiah Muthumani, Ph.D.

“Vaksin sintetik sederhana ini memiliki potensi untuk mengatasi produksi dan keterbatasan penyebaran, terlabih lagi, vaksin ini non-hidup, sehingga tidak menimbulkan risiko menyebar ke individu yang tidak diinginkan,” lanjut Muthumani, seperti dilansir University of Pennsylvania School of Medicine (19/08/2015).

Kolaborator lainnya termasuk peneliti dari National Institute of Allergy and Infectious Disease Public Health Agency of Canada, Inovio Pharmaceuticals, University of Washington dan University of South Florida.

Penelitian ini sebagian didanai oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (R01-AI092843) dan Inovio Pharmaceuticals Inc., PA.

Referensi Jurnal :

K. Muthumani, D. Falzarano, E. L. Reuschel, C. Tingey, S. Flingai, D. O. Villarreal, M. Wise, A. Patel, A. Izmirly, A. Aljuaid, A. M. Seliga, G. Soule, M. Morrow, K. A. Kraynyak, A. S. Khan, D. P. Scott, F. Feldmann, R. LaCasse, K. Meade-White, A. Okumura, K. E. Ugen, N. Y. Sardesai, J. J. Kim, G. Kobinger, H. Feldmann, D. B. Weiner. A synthetic consensus anti-spike protein DNA vaccine induces protective immunity against Middle East respiratory syndrome coronavirus in nonhuman primates. Science Translational Medicine, 2015; 7 (301): 301ra132 DOI: 10.1126/scitranslmed.aac7462.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here