tanaman, kekeringan
Ilustrasi.

Bhataramedia.com – Penelitian dari University of Adelaide telah menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa meskipun tidak memiliki sistem saraf, tanaman menggunakan sinyal yang biasanya terkait dengan hewan ketika mereka menghadapi stres.

Dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para peneliti di Australian Research Council (ARC) Centre of Excellence di Plant Energy Biology melaporkan bagaimana tanaman merespon lingkungan mereka dengan kombinasi respon kimia dan elektrik yang menyerupai hewan, tetapi melalui mesin yang khusus pada tanaman.

“Kami sudah lama mengenal bahwa neurotransmitter hewan, GABA (gamma-aminobutyric acid), dihasilkan oleh tanaman di bawah kondisi stres, misalnya ketika mereka menghadapi kekeringan, salinitas, virus, tanah asam atau suhu ekstrim,” kata penulis senior, Matthew Gilliham, ARC Future Fellow di University School of Agriculture, Food and Wine.

“Tetapi tidak diketahui apakah GABA adalah sinyal pada tanaman. Kami telah menemukan bahwa tanaman mengikat GABA melalui cara yang mirip dengan hewan, sehingga menghasilkan sinyal-sinyal listrik yang pada akhirnya mengatur pertumbuhan tanaman saat tanaman terpapar stres lingkungan.”

Dengan mengidentifikasi bagaimana tanaman menanggapi GABA para peneliti optimis bahwa mereka telah membuka banyak kemungkinan baru untuk memodifikasi bagaimana tanaman merespon terhadap stres.

“Tekanan utama yang dihadapi tanaman pertanian, seperti patogen dan kondisi lingkungan yang buruk mengakibatkan kehilangan sebagian besar hasil panen dan dapat berakibat pada kekurangan pangan,” kata rekan penulis, Profesor Stephen Tyerman, seperti dilansir University of Adelaide (29/07/2015).

“Dengan mengidentifikasi bagaimana tanaman menggunakan GABA sebagai sinyal stres kita memiliki alat baru untuk membantu upaya global, dalam rangka mengembangbiakkan tanaman yang lebih tahan terhadap stres untuk melawan kerawanan pangan.”

Meskipun memiliki fungsi sama, protein yang mengikat GABA dan rekan-rekan mamalia mereka, hanya mirip satu sama lain di daerah di mana mereka berinteraksi dengan neurotransmitter, protein sisanya terlihat sangat berbeda.

“Hal ini menimbulkan pertanyaan yang sangat mengenai bagaimana GABA telah direkrut sebagai pembawa pesan pada kerajaan tumbuhan dan hewan,” kata rekan penulis, Dr. Sunita Ramesh. “Tampaknya GABA kemungkinan telah berkembang secara terpisah di kedua kerajaan.”

Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini juga dapat menjelaskan mengapa obat yang berasal dari tumbuhan tertentu digunakan sebagai obat penenang dan antiepilepsi yang bekerja pada manusia. Obat ini dapat berinteraksi dengan protein dalam sistem pensinyalan GABA, baik pada tumbuhan dan hewan. Menunjukkan bahwa penelitian di masa depan pada agen pensinyal GABA lainnya pada tanaman juga akan menguntungkan bidang medis.

Referensi Jurnal :

Sunita A. Ramesh, Stephen D. Tyerman, Bo Xu, Jayakumar Bose, Satwinder Kaur, Vanessa Conn, Patricia Domingos, Sana Ullah, Stefanie Wege, Sergey Shabala, José A. Feijó, Peter R. Ryan, Matthew Gillham. GABA signalling modulates plant growth by directly regulating the activity of plant-specific anion transporters. Nature Communications, 2015; 6: 7879 DOI: 10.1038/ncomms8879.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here