sayuran, toleran garam
Bibit yang ditampilkan 2 hari setelah dibanjiri dengan simulasi air laut menunjukkan kerusakan akibat garam yang terlihat. Sisi kiri (atas ke bawah): bayam, mentimun, lobak red crunch, brokoli dan tomat. Sisi kanan (atas ke bawah): kale, kubis cina, lobak, yu choy dan terong.(Credit: Photo by Youping Sun)

Bhataramedia.com – Produksi tanaman di wilayah pesisir terancam oleh intrusi air laut yang meningkatkan salinitas tanah. Salinitas yang berlebihan dalam air tanah dan irigasi, dikombinasikan dengan genangan air, secara signifikan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kualitas untuk tanaman pertanian, terutama sayuran yang sensitif terhadap salinitas. Suatu studi baru telah menentukan bibit sayuran yang toleran garam untuk produksi di daerah pesisir.

Youping Sun, Joseph Masabni, dan Genhua Niu, penulis dari studi yang muncul pada edisi Mei 2015 di HortScience tersebut, mengatakan ada informasi yang terbatas pada toleransi sayuran terhadap genangan air laut pada tahap awal pengembangan. Para ilmuwan merancang percobaan untuk mengevaluasi respon pertumbuhan tanaman dari tanaman sayuran terhadap simulasi genangan air laut.

Penelitian ini melibatkan 10 bibit sayuran populer: terong, brokoli, kale, kubis Cina, tomat, bayam, mentimun, lobak, lobak , ‘Red Crunchy’, dan Chinese greens (Yu Choy). Bibit ditempatkan di bak selama 24 jam dengan simulasi air laut (SAL) atau dengan air keran. Genagan air benar-benar menenggelamkan media tumbuh, tetapi daun tidak mengalami kontak dengan SAL atau air keran. Bibit yang tidak tenggelam digunakan sebagai kelompok kontrol.

“Kami tidak menemukan perbedaan statistik dalam pertumbuhan atau parameter fisiologis antara kelompok kontrol yang dibanjiri air keran atau kelompok kontrol yang tidak dibanjiri air keran,” tulis para peneliti. “Dengan kata lain, 24 jam genangan dengan air keran tidak memiliki dampak negatif pada pertumbuhan sayuran di minggu berikutnya.”

Oleh karena bibit yu choy dan mentimun dibanjiri SAL mati pada akhir percobaan atau dua minggu setelah banjir, data pertumbuhan tidak dikumpulkan untuk kedua sayuran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran lainnya menampilkan kerusakan akibat garam. “Kubis Cina mengalami penurunan terkuat, sedangkan bayam, tomat, dan terong menampilkan penurunan paling tinggi pada berat kering karena genangan air laut, dibandingkan dengan kelompok kontrol,” kata para ilmuwan. “Dua minggu setelah perlakuan genangan dengan simulasi air garam, laju fotosintesis bersih brokoli, kangkung, bayam, dan tomat berkurang dari 43% hingga 67%, tingkat transpirasi sebesar 35% hingga 66% dan konduktansi stomata sebesar 51% hingga 82%.”

Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa bayam, terong, dan tomat yang paling toleran terhadap simulasi banjir air laut, sementara kubis cina, yu choy dan mentimun adalah yang paling rendah toleransinya. “Simulasi genangan air laut secara signifikan meningkatkan konsentrasi Na dan Cl pada daun dari semua sayuran yang diuji, tetapi terjadi penurunan konsentrasi K pada daun dari brokoli, kubis Cina, terong, kangkung, bayam, dan tomat dan konsentrasi Ca pada daun dari brokoli, kale, lobak, dan lobak ‘Red Crunchy’.”

Dilansir American Society for Horticultural Science (29/07/2015), para penulis merekomendasikan bahwa produsen sayuran di daerah pesisir dapat mempertimbangkan untuk menggunakan sayuran yang toleran terhadap garam, seperti bayam, terong, dan tomat untuk meminimalkan kerusakan pada sayuran dan meningkatkan produksi.

Referensi Jurnal :

Genhua Niu et al. Simulated Seawater Flooding Reduces the Growth of Ten Vegetables. HortScience, May 2015.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here