burung pemakan bangkai
Burung pemakan bangkai.

Bhataramedia.com –¬†Analisis data keasaman lambung dan diet pada burung dan mamalia menunjukkan bahwa tingkat tinggi keasaman lambung dikembangkan tidak untuk membantu hewan mencerna makanan, tetapi untuk melindungi hewan terhadap keracunan makanan. Pekerjaan ini menimbulkan pertanyaan menarik mengenai evolusi keasaman lambung pada manusia, dan bagaimana kehidupan modern dapat mempengaruhi keasaman perut kita dan komunitas mikroba yang hidup dalam usus kita.

“Kami memulai proyek ini karena kami ingin lebih memahami hubungan antara keasaman lambung, diet dan mikroba yang hidup di usus burung dan mamalia,” kata Deanna Beasley, seorang peneliti postdoctoral di North Carolina State University dan penulis koresponden pada penelitian.

“Ide kami adalah temuan ini menawarkan beberapa konteks untuk melihat peran perut manusia dalam mempengaruhi mikroba usus dan perannya bagi kesehatan manusia,” lanjut Beasley, seperti dilansir North Carolina State University (29/07/2015).

Tim peneliti, termasuk ilmuwan dari Washington University dan University of Colorado, Boulder, memeriksa semua literatur yang ada mengenai keasaman lambung pada burung dan mamalia, dan menemukan data dari 68 spesies. Mereka kemudian mengumpulkan data pada kebiasaan makan alami setiap spesies. Para peneliti kemudian melakukan analisis untuk melihat bagaimana perilaku makan terkait dengan keasaman lambung.

Para peneliti menemukan bahwa pemakan bangkai, atau spesies yang makan makanan berisiko tinggi terhadap kontaminasi mikroba, memiliki perut lebih asam. Keasaman ini memungkinkan perut untuk bertindak sebagai filter, yang secara efektif mengendalikan mikroba yang dapat melewati perut menuju usus.

“Temuan ini menegaskan hipotesis kami, tetapi Anda harus mendapatkan konfirmasi sebelum bergerak maju,” kata Beasley. “Langkah berikutnya bagi para ilmuwan adalah untuk meneliti ekosistem mikroba pada usus hewan-hewan ini, untuk melihat bagaimana ekosistem ini telah berevolusi. Apakah hewan dengan keasaman lambung tinggi memiliki populasi mikroba usus yang lebih kecil atau kurang beragam? Atau apakah mereka hanya menjadi tuan rumah mikroba yang dapat bertahan hidup dalam lingkungan asam?.”

Salah satu kejutan adalah, sementara peneliti telah mengklasifikasikan manusia sebagai omnivora, perut manusia memiliki tingkat keasaman tinggi yang biasanya terkait dengan burung pemakan bangkai. Sementara itu, literatur menunjukkan bahwa perawatan medis (dari operasi hingga antasida), secara signifikan dapat mengubah keasaman lambung manusia.

“Hal ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana manusia berevolusi, hubungan spesies kita dengan makanan dari waktu ke waktu, serta bagaimana perubahan diet dan obat-obatan modern mempengaruhi perut, mikroba usus dan kesehatan kita,” kata Beasley. “Pertanyaan-pertanyaan ini sedang dieksplorsi oleh komunitas riset dan jawabannya akan menarik.”

Referensi Jurnal :

DeAnna E. Beasley, Amanda M. Koltz, Joanna E. Lambert, Noah Fierer, Rob R. Dunn. The Evolution of Stomach Acidity and Its Relevance to the Human Microbiome. PLOS ONE, 2015; 10 (7): e0134116 DOI: 10.1371/journal.pone.0134116.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here