mundardjito, arkeolog
Guru arkeologi Indonesia, Mundardjito.(Credit: Arbain Rambey)

Bhataramedia.com – Bagi yang bergiat di dunia arkeolog, pasti hapal dan menaruh hormat pada satu nama ini. Nama tersebut adalah Mundardjito, profesor arkeologi dari Universitas Indonesia. Ya, Mundardjito, adalah salah satu nama penting dalam dunia arkeologi Indonesia. Bahkan, sang profesor mendapat julukan yang terhormat dianggap sebagai bapak arkeologi Indonesia. Mundardjito, adalah salah satu begawam arkeologi di Indonesia.

Bagi Mundardjito, arkeologi adalah bagian yang tak terpisahkan dari jejak hidupnya. Bahkan nyaris separuh hidupnya didedikasikan untuk dunia arkeologi Indonesia. Maka, candi, artefak, dan segala situs jejak peradaban adalah menu sehari-hari sang profesor. Menurut Mundardjito, arkeologi adalah salah satu cara sebuah bangsa meneguhkan jatidirinya. Artefak tak sekedar jejak masa lalu. Candi bukan sekedar tetengger masa silam. Tapi itu, adalah jejak jati diri sebuah bangsa. Itu adalah alat pengenal sejarah sebuah bangsa yang mesti dirawat dan diwarisan.

Maka Mundardjito pun, tak segan pasang badan, ketika ada tangan yang coba mengotak-atik sebuah situs. Seperti yang terjadi di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Seperti diketahui, Trowulan adalah tempat yang kaya akan jejak sejarah. Di sana, ibukota Majapahit pernah berdiri. Majapahit, sebuah kerajaan besar yang pernah ada di Indonesia.
Di Trowulan, ‘murka’ sang profesor, kelahiran Bogor 8 Oktober 1936 itu meletup. Adalah, proyek pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) di situs Trowulan yang membuat Mundardjito ‘marah’. Pembangunan PIM sendiri digagas era Jero Wacik menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Bagi sang profesor, pembangunan PIM akan merusak jejak peradaban di situs Trowulan. Maka, sang profesor pun melakukan perlawanan.

Majalah Tempo, edisi 7 April 2013, mengulas secara khusus kisah ‘perlawanan’ sang begawan arkeologi tersebut. Pada 2008 kala itu, Jero Wacik, sang Menteri yang kini terjerat kasus di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), punya proyek besar di Trowulan. Ia hendak membangun PIM, semacam museum yang terletak di sebelah selatan Kolam Segaran. Padahal, menurut Mundardjito, letak museum yang rencananya akan dibangun seluas enam hektar itu, sarat jejak sejarah. Di area museum adalah komplek perumahan kalangan elit Majapahit.

Mundardjito pun menentang rencana sang menteri. Tapi, ia terpaksa harus menanggung resikonya. Seperti pengakuannya kepada Majalah Tempo, ia dikucilkan di almamaternya, Universitas Indonesia. Namun ia bergeming, tetap melakukan perlawanan dengan segala cara. Ia tetap melawan, menyuarakan penolakannya dengan segala argumen. Dukungan pun datang mengalir. Bahkan, Inajati Adrisijanti, profesor arkeologi di Universitas Gadjah Mada, terang-terangan mendukung perlawanan Mundardjito dengan cara mengajak demonstrasi para mahasiswanya.

Manjur, perlawanan sang begawan arkeologi tak sia-sia. Sang menteri mulai menaruh perhatiannya padanya. Sampai kemudian, ia dipanggil Jero Wacik. Mungkin sang menteri yang kala itu adalah ‘orang dekat’ Presiden SBY, gerah dengan pemberitaan tentang ‘perlawanan’ sang profesor. Mundardjito pun akhirnya diangkat Jero menjadi ketua tim evaluasi. Proyek PIM sendiri, akhirnya memang dihentikan.