loading...

Bhataramedia.com – Pada tahun 2012, sempat mencuat berita tentang keberadaan sebuah piramida besar yang terletak di Gunung Gunung Sadahurip, Garut, Jawa Barat. Piramida Sadahurip, demikian sebutannya.

Berita keberadaan piramida Sadahurip, kala itu begitu menghebohkan. Karena konon kabarnya, piramida di Gunung Sadahurip itu, adalah salah satu piramida terbesar di dunia. Tapi, seiring pergantian pemerintahan, berita tentang piramida Sadahurip seperti tenggelam, kalah oleh ramai gaduhnya berita-berita yang diproduksi dari panggung politik, seperti isu dana aspirasi dan pergantian Kapolri, dan isu lainnya.

Padahal ketika itu, pihak Kementerian Riset dan Teknologi coba menelusuri kebenaran dari keberadaan piramida Sadahurip yang menghebohkan itu. Bahkan, ketika itu, Menteri Riset, Gusti Hatta Ali sampai membentuk tim peneliti yang berisikan pakar-pakar di bidangnya untuk memburu dan memastikan keberadaan piramida Sadahurip. Menteri Ristek juga sudah berencana mengirimkan tim peneliti untuk terjun ke Sadahurip.

Tapi, kini Gusti Hatta Ali, sudah pensiun seiring bergantinya Presiden dari SBY ke Joko Widodo. Tak hanya itu, nomenklatur kementerian riset juga berubah. Di era Jokowi, kementerian riset berganti nama menjadi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Menteri riset sekarang dijabat oleh M Nasir.

Bergantinya menteri serta nama kementerian, seakan menandai tenggelamnya isu tentang piramida Sadahurip. Justru isu yang muncul dari Kementerian Riset, adalah tentang fenomena ijasah palsu atau jual beli ijasah dari universitas abal-abal. Sementara isu Sadahurip, hilang entah kemana, kalah seksi oleh isu ijasah palsu yang kabarnya banyak digunakan oleh pejabat dan anggota dewan.

Selain kementerian riset yang menaruh perhatian terhadap keberadaan piramida Sadahurip, ketika itu ada lembaga lain yang secara serius coba melacak piramida yang kabarnya mengalahkan piramida yang ada di Mesir tersebut. Instansi itu adalah lembaga staf khusus presiden bidang bantuan sosial dan bencana yang ketika itu dikomandani oleh Andi Arief. Bahkan, ketika itu, Andi Arief sampai bentuk tim katastrofik purba. Kabarnya pula, tim katastrofik purba bentukan staf khusus presiden itu telah melakukan uji pertanggalan karbon radioaktif pada lapisan tanah di permukaan gunung Sadahurip.

Tim kabarnya, telah mendapat bentuk bronjong tubuh piramid yang diyakini berumur sangat tua, hingga 7.000 tahun silam lebih. Namun kabar itu disangsikan. Bahkan banyak pula yang tak percaya di Sadahurip ada piramida besar yang berumur ribuan tahun. Yang menyangsikan, menyebut tak masuk akal bila di Gunung Sadahurip tertimbun sebuah piramida.

Namun kini perdebatan tentang keberadaan piramida Sadahurip benar-benar menguap. Tak ada lagi jejak berita tentang isu piramida itu. Publik lebih banyak dicekoki, berita-berita seputar ramai gaduhnya panggung politik, harga sembako yang terus merangkak naik, serta rontoknya rupiah dihadapan dollar.

Tapi memang, bila ada yang pernah mengunjungi Garut, dan melihat Gunung Sadahurip, sekilas gunung tersebut tampak seperti piramida. Gunung Sadahurip sendiri terletak sebelah timur Kampung Cicapar, Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan Garut, dan ada di sebelah barat Kampung Sindang Galih Desa Sindang Galih Kecamatan Karangtengah, Garut.

Bagi yang penasaran ingin melihat Sadahurip, bisa menempuh jalan melalui Desa Sukahurip Kecamatan Pangatikan, Garut. Oleh masyarakat setempat, gunung tersebut dikenal dengan nama Gunung Putri. Banyak juga masyarakat yang menganggap gunung itu adalah gunung keramat. Bila dilihat sekilas, Gunung Sadahurip memang tampak seperti piramida, dimana puncaknya berbentuk lancip, dengan empat sisi kaki gunung yang menopangnya.

Kabarnya, penelitian tentang keberadaan piramida di Gunung Sadahurip sudah dilakukan sejak tahun 2008. Tapi, belum ada hasil konkrit. Justru yang muncul silang perdebatan. Kini yang bersemangat membongkar misteri piramida Sadahurip tak lagi ada di panggung kekuasaan. Andi Arief, mantan aktivis itu telah pensiun. Apa kabarnya piramida Sadahurip? Pertanyaan itu menggantung dilangit, bahkan perlahan meruap hilang dari benak publik.