Beranda Science Fosil Ular Berkaki Empat Ditemukan

Fosil Ular Berkaki Empat Ditemukan

fosil, ular
Fosil ular memiliki 'tangan' kecil dengan panjang sekitar 1 cm.(Credit: Image courtesy of University of Portsmouth)
fosil, ular
Fosil ular memiliki ‘tangan’ kecil dengan panjang sekitar 1 cm.(Credit: Image courtesy of University of Portsmouth)

Bhataramedia.com –┬áSuatu fosil ular yang memiliki empat kaki telah ditemukan oleh tim ilmuwan dan dapat membantu menunjukkan bagaimana ular melakukan transisi dari kadal ke ular.

Ini adalah fosil pertama yang diketahui dari ular berkaki empat. Tim yang dipimpin oleh Dr. Dave Martill dari Universitas Portsmouth, mengatakan bahwa penemuan ini dapat membantu para ilmuwan untuk memahami bagaimana ular kehilangan kaki mereka.

Penemuan ini dipublikasikan di jurnal Science.

Dilansir University of Portsmouth (23/07/2015), Dr. Martill mengatakan: “Telah diterima secara umum bahwa ular berevolusi dari kadal di beberapa titik di masa lalu. Apa yang para ilmuwan belum tahu adalah ketika mereka berevolusi, mengapa mereka berevolusi, dan dari jenis kadal apa mereka berevolusi.Fosil ini memberikan jawaban beberapa pertanyaan yang sangat penting, misalnya sekarang tampak jelas bagi kita bahwa ular berevolusi dari kadal yang menggali, bukan dari kadal laut. ”

Fosil dari Brazil, yang berasal dari periode Cretaceous dan berusia 110 juta tahun, menjadikannya ular definitif tertua.

Dr. Martill menemukan fosil tersebut sebagai bagian dari kunjungan lapangan rutin dengan mahasiswa untuk Museum Solnhofen, Jerman, suatu museum yang terkenal berkaitan dengan fosil.

Dr. Martill mengatakan: “Fosil ini merupakan bagian dari pameran yang lebih besar dari fosil pada periode Cretaceous. Jelas bahwa tidak ada seorang pun menghargai pentingnya fosil ini, tetapi ketika saya melihatnya, saya tahu itu adalah spesimen yang berbeda.”

Dr. Martill bekerja dengan ahli paleontologi Jerman Helmut Tischlinger, yang menyiapkan dan memfoto spesimen, dan Dr. Nick Longrich dari University of Bath Milner Pusat Evolution, yang mempelajari hubungan evolusi fosil ular tersebut.

Dr. Longrich, yang sebelumnya bekerja pada asal-usul ular, menjadi tertarik ketika Martill mengatakan kepadanya mengenai fosil tersebut.

Dia berkata: “Seekor ular berkaki empat tampak fantastis dan sebagai ahli biologi evolusi, itu terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Sangat menarik bahwa fosil itu dipajang di museum, dimana orang dapat melihatnya.”

Dia mengatakan bahwa dia awalnya skeptis, tetapi ketika Dr. Martill menunjukkan padanya foto milik Tischlinger, dia langsung tahu bahwa itu adalah fosil ular.

Ular yang diberi nama Tetrapodophis amplectus oleh tim peneliti, masih remaja dan sangat kecil, berukuran hanya 20 cm dari kepala sampai kaki, meskipun mungkin ular ini telah tumbuh jauh lebih besar. Kepalanya berukuran sebesar kuku orang dewasa, dan tulang ekor terkecil hanya memiliki panjang seperempat milimeter. Tetapi hal yang paling luar biasa tentang hal itu adalah adanya dua set kaki, atau sepasang tangan dan sepasang kaki.

Kaki depannya sangat kecil, dengan panjang sekitar 1 cm, tetapi memiliki sedikit siku dan pergelangan tangan, serta tangan dengan panjang hanya 5mm. Kaki belakangnya sedikit lebih panjang dan lebih besar dari tangan, serta dapat digunakan untuk menangkap mangsanya.

Dr. Longrich mengatakan: “Ini adalah ular kecil yang sempurna, kecuali ia memiliki lengan dan kaki yang kecil, dan ular ini memiliki jari yang panjang aneh dan jari-jari kaki yang aneh.”

“Tangan dan kakinya sangat khusus untuk menangkap. Jadi ketika ular ini berhenti berjalan dan mulai merayap, kaki tidak hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Mereka mulai menggunakannya untuk sesuatu yang lain. Kami tidak sepenuhnya yakin untuk apa, tetapi kaki tersebut kemungkinan telah digunakan untuk menangkap mangsa, atau mungkin pasangan. ”

Menariknya, fosil ular ini juga memiliki sisa-sisa makanan terakhir di ususnya, termasuk beberapa fragmen tulang. Mangsanya kemungkinan salamander, menunjukkan bahwa ular adalah hewan karnivora jauh lebih awal dalam sejarah evolusi dari yang diyakini sebelumnya.

Helmut Tischlinger mengatakan: “Kelestarian fosil ular kecil tersebut benar-benar indah. Kerangka sepenuhnya terartikulasi. Rincian dari tulang jelas terlihat dan kesan dari jaringan lunak seperti sisik dan trakea masih terawetkan.”

Tetraphodophis telah dikategorikan sebagai ular, bukan kadal, oleh tim karena sejumlah fitur :

  • Kerangkanya memiliki tubuh yang dapat memanjang, bukan ekor yang panjang.
  • Gigi, arah gigi dan pola gigi, serta tulang rahang bawah semua sama seperti ular.
  • Fosil tersebut menampilkan petunjuk berupa satu baris sisik perut, cara yang pasti untuk membedakan ular dari kadal.

Tetrapodophis hidup di tepi danau garam, pada lingkungan kering, dikelilingi oleh tanaman. Mangsanya berupa amfibi kecil dan kadal, serta berusaha untuk menghindari dinosaurus dan pterosaurus yang tinggal di sana.

Pada saat itu, Amerika Selatan bersatu dengan Afrika sebagai bagian dari superbenua yang dikenal sebagai Gondwana. Kehadiran fosil ular tertua di Gondwana menunjukkan bahwa ular mungkin awalnya telah berevolusi dari superbenua kuno, dan menjadi lebih menyebar secara luas baru-baru ini.

Referensi Jurnal :

Dave Martill et al. A four-legged snake from the Early Cretaceous of Gondwana. Science, July 2015 DOI: 10.1126/science.aac5672.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here