Ilustrasi, Ruangan dan alat terapi radiasi. (Photo: Ikiwaner)
Ilustrasi, Ruangan dan alat terapi radiasi. (Photo: Ikiwaner)

Bhataramedia.com – Kemajuan terbaru pada pemahaman kanker telah membawa pada terapi yang lebih pribadi, seperti obat yang menargetkan protein tertentu dan tes yang menganalisis pola ekspresi gen pada tumor untuk memprediksi respon pasien terhadap terapi.

Para peneliti dari Moffitt Cancer Center telah berkontribusi untuk kemajuan tersebut dengan mengembangkan tes pertama yang menganalisis sensitivitas tumor terhadap terapi radiasi. Mereka menemukan bahwa metastasis kanker usus besar memiliki berbagai kepekaan terhadap terapi radiasi berdasarkan lokasi anatominya.

Para peneliti dari Moffitt sebelumnya telah mengembangkan radiation sensitivity index (RSI) yang memprediksi bagaimana tumor sensitif terhadap radiasi berdasarkan pola ekspresi gen yang berbeda. Pada sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan 15 Juli di International Journal of Radiation Oncology, Biology and Physics, mereka menggunakan RSI untuk menentukan sensitivitas radiasi dari 704 tumor usus besar metastasis dan 1362 tumor usus besar primer.

Dilansir H. Lee Moffitt Cancer Center & Research Institute (23/07/2015), mereka menemukan bahwa tumor usus besar metastasis lebih tahan terhadap radiasi daripada tumor usus besar primer. Para peneliti juga melaporkan bahwa sensitivitas radiasi kemungkinan tergantung pada lokasi anatomi dari metastasis tumor. Ini adalah salah satu studi penelitian pertama yang menyoroti pentingnya lokasi metastasis serta lokasi tumor primer asli, untuk memprediksi respon terhadap terapi radiasi.

Para peneliti menegaskan beberapa temuan ini dengan menganalisis bagaimana efektivitas terapi radiasi terhadap 29 tumor kanker usus besar yang menjalar ke hati atau paru-paru. Temuan mereka memvalidasi bahwa pasien yang memiliki penyakit metastasis di paru-paru mereka memiliki respon yang lebih baik terhadap radiasi, dibandingkan pasien yang memiliki penyakit metastasis di hati mereka, seperti yang diperkirakan oleh RSI.

Studi ini menunjukkan bahwa ada kemungkinkan untuk personalisasi terapi radiasi untuk pasien. “Radiation sensitivity index memberikan kesempatan pertama penggunaan genetika tumor, untuk membimbing dan mengoptimalkan dosis radiasi yang pasien terima. Konsekuensi untuk ini dapat sangat dramatis. Kami telah memperkirakan bahwa sampai 15 persen pasien akan menjadi kandidat untuk optimasi dosis,” jelas peneliti senior, Javier F.Torres-Roca, M.D., direktur Clinical Research dan anggota asosiasi dari Department of Radiation Oncology di Moffitt.

Komunitas medis telah mencatat kontribusi Moffitt untuk meningkatkan perawatan kanker. Menurut editor dari International Journal of Radiation Oncology, Biology and Physics  yang menyorot penelitian ini, “Radiation sensitivity index merupakan kemajuan penting menuju personalisasi terapi radiasi. Hasil penelitian ini menghasilkan hipotesis penting yang secara dramatis dapat mempengaruhi perawatan pasien.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here