kwajelein atoll, terumbu karang
Foto udara dari Atol Kwajalein di Kepulauan Marshall menunjukkan dataran pulau yang rendah dan terumbu karangnya. Studi baru memberikan panduan kepada pengelola pesisir untuk menilai bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi kemampuan terumbu karang untuk mengurangi bahaya bagi wilayah pesisir.(Credit: Curt Storlazzi/USGS)

Bhataramedia.com –┬áTerumbu karang, di bawah tekanan dari perubahan iklim dan aktivitas manusia secara langsung, kemungkinan berkurang kemampuannya untuk melindungi pulau-pulau tropis terhadap serangan gelombang, erosi dan salinisasi sumber daya air minum, yang membantu untuk mempertahankan kehidupan di pulau-pulau tersebut. Penelitian baru memberikan petunjuk kepada manajer pesisir untuk menilai bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi kemampuan terumbu karang untuk mengatasi bahaya yang dihadapi pesisir.

Sekitar 30 juta orang bergantung pada perlindungan oleh terumbu karang, karena ekosistem ini hidup di pulau-pulau karang yang rendah dan atol. Saat ini, beberapa pulau mengalami banjir karena beberapa kali gelombang peristiwa per dekade. Diduga bahwa tingkat banjir ini akan meningkat karena kenaikan permukaan laut dan pembusukan terumbu karang, karena karang mati yang tersisa umumnya memliki struktur yang halus dan sedikit meredam energi gelombang. Hilangnya tutupan karang tidak hanya menyebabkan peningkatan erosi pantai, tetapi juga mempengaruhi sumber air minum di pulau-pulau, yang akhirnya dapat membuat pulau-pulau ini tidak dapat dihuni.

Agar dapat mencegah atau mengurangi dampak tersebut, pengelola pesisir perlu mengetahui sejauh mana sistem terumbu karang kehilangan fungsi pelindungnya, sehingga mereka dapat mengambil tindakan. Studi baru oleh para peneliti dari lembaga independen Belanda untuk penelitian terapan Deltares dan US Geological Survey memberikan panduan mengenai sensitivitas karang lokal terhadap perubahan. Penelitian baru ini telah diterima untuk dipublikasikan di Geophysical Research Letters, sebuah jurnal dari American Geophysical Union.

Untuk mendapatkan wawasan terhadap pengaruh dari perubahan kondisi terumbu karang, penulis penelitian menggunakan Xbeach, suatu pemodelan gelombang open-source. Model komputer ini pertama kali divalidasi dengan menggunakan pengukuran lapangan yang diperoleh dari Atol Kwajalein di Kepulauan Marshall, Samudera Pasifik. Kemudian digunakan untuk menyelidiki apa pengaruhnya terhadap tingkat ketinggian air, gelombang dan kenaikan air yang didorong gelombang jika terjadi perubahan tertentu pada terumbu karang. Kekasaran, kecuraman, lebar dan total ketinggian air pada terumbu karang merupakan faktor-faktor penting yang perlu dipertimbangkan bagi pengelola wilayah pesisir ketika merencanakan tindakan mitigasi, menurut penulis studi tersebut.

Dilansir American Geophysical Union (22/07/2015), menurut penelitian baru tersebut, naiknya permukaan air laut dan perubahan iklim akan berdampak signifikan pada kemampuan terumbu karang untuk mengurangi dampak yang membahayakan bagi pesisir di masa depan.

Referensi Jurnal :

Ellen Quataert, Curt Storlazzi, Arnold van Rooijen, Olivia Cheriton, Ap van Dongeren. The influence of coral reefs and climate change on wave-driven flooding of tropical coastlines. Geophysical Research Letters, 2015; DOI: 10.1002/2015GL064861.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here