curah hujan, simulasi
Gambar ini menunjukkan simulasi curah hujan (lebih dari 24 jam dari 06-07 Juli 2012) dari model yang menggunakan suhu permukaan laut yang diamati (a) dan (b) menggunakan perwakilan SST yang lebih dingin dari awal 1980-an). Tanda plus hitam menandai kota Krymsk, garis hitam tipis adalah kontur ketinggian dengan jarak 150 meter.(Credit: GEOMAR)

Bhataramedia.com –┬áSuhu di planet kita sudah jelas sedang meningkat. Secara khusus, peningkatan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida terus menghangatkan atmosfer. Namun, dampak pemanasan global terhadap siklus hidrologi, masih belum sepenuhnya dipahami.

Hal utama yang masih belum pasti adalah bagaimana kekuatan badai musim panas yang ekstrim telah berubah, dan bagaimana hal itu kemungkinan berubah di masa depan.

Di daerah pesisir dengan laut yang hangat, suhu permukaan laut dapat memainkan peran penting pada intensitas badai konvektif.

Laut Hitam dan Mediterania Timur telah menghangat sekitar 2 derajat Celsius sejak awal 1980-an. Ilmuwan Rusia dan Jerman menyelidiki apa dampak pemanasan ini kemungkinan memiliki dampak pada curah hujan ekstrim di wilayah tersebut.

“Contohnya adalah peristiwa hujan lebat dari Juli 2012 yang berlangsung di Krymsk (Rusia), dekat pantai Laut Hitam, sehingga menyebabkan bencana banjir yang merenggut 172 korban jiwa,” kata Edmund Meredith, penulis utama studi tersebut. “Kami melakukan sejumlah simulasi resolusi tinggi dengan model atmosfer untuk menyelidiki dampak kenaikan suhu permukaan laut pada pembentukan badai konvektif intens, yang sering dikaitkan dengan curah hujan yang ekstrim,” lanjut Meredith, seperti dilansir Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel (13/07/2015).

Simulasi peristiwa dengan suhu permukaan laut yang diamati menunjukkan peningkatan intensitas curah hujan lebih dari 300%, dibandingkan dengan simulasi sebanding yang menggunakan perwakilan suhu permukaan laut dari awal 1980-an. “Kami mampu mengidentifikasi perubahan yang sangat berbeda, yang menunjukkan bahwa curah hujan konvektif merespon dengan kuat terhadap kenaikan suhu,” jelas Prof. Douglas Maraun, rekan penulis penelitian.

Pada akhir Juni 2015, kota Olimpiade terdekat, Sochi, mengalami suatu peristiwa curah hujan yang luar biasa intens. Lebih dari 175 mm hujan tercatat dalam 12 jam, yang menunjukkan relevansi dari penemuan para ilmuwan. “Oleh karena memanasnya lautan, atmosfer yang lebih rendah telah menjadi lebih tidak stabil di atas Laut Hitam dan Mediterania Timur. Oleh karena itu kami menduga bahwa peristiwa seperti di Krymsk atau Sochi akan menjadi lebih sering di masa depan,” tambah para ilmuwan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here