Bhataramedia.com – Penelitian yang dilakukan oleh ahli imunologis UC Irvine mengungkapkan informasi baru mengenai bagaimana fungsi sistem kekebalan tubuh kita. Penemuan tersebut memberikan petunjuk pada proses penting yang menentukan bagaimana kemampuan tubuh untuk berkembang melawan infeksi.

Di dalam jurnal Nature Immunology versi online, profesor neurologi Dr. Michael Demetriou, sarjana postdoctoral Raymond Zhou dan rekan-rekannya menggambarkan mekanisme penting yang mendasari bagaimana sel-sel T dibuat, dipilih dan dilepaskan ke dalam aliran darah.

Sel T adalah jenis sel darah yang disebut limfosit dan berfungsi melindungi tubuh dari infeksi. Prekursor sel T yang disebut thymocytes dibuat di dalam sumsum tulang dan bermigrasi ke timus (organ seukuran buah kenari di dasar leher). Di dalam timus, thymocytes berubah menjadi sel T.

Namun, hanya sedikit thymocytes menjadi sel T yang berfungsi penuh. Di dalam penelitian ini, tim Demetriou memperoleh wawasan baru yang penting mengapa hal tersebut terjadi.

Pada saat berubah menjadi sel T, thymocytes menumbuhkan reseptor yang bereaksi terhadap antigen (semua zat yang memprovokasi respon imun) yang terikat dengan molekul kecil yang disebut MHC. Jika reaksi ini terlalu kuat atau terlalu lemah, thymocyte tidak akan berubah menjadi sel T.

Demetriou dan rekannya menemukan bahwa keseimbangan untuk menentukan kemampuan reaktif yang tepat dikendalikan oleh glikosilasi, suatu proses dimana gula menempel pada protein target untuk memberikan stabilitas dan bentuk protein. Mereka melihat bahwa perubahan penambahan gula pada reseptor (termasuk pemblokiran glikosilasi) selama pengembangan sel T sangat mempengaruhi bagaimana thymocytes bereaksi terhadap antigen MHC dan apakah thymocytes dapat menjadi sel T yang matang.

Glikosilasi juga dapat membantu menjelaskan terbentuknya sel T reaktif yang melarikan diri dari timus dan dapat menyerang antigen tubuh sendiri, suatu proses yang disebut autoimunitas yang menjadi dasar gangguan sistem imun seperti multiple sclerosis.

“Memahami bagaimana sel-sel T dipilih untuk reaktivitas antigen telah menjadi teka-teki, dan di dalam penelitian ini kami telah membuat kemajuan besar di dalam memahami bagaimana seleksi ini bekerja,” kata Demetriou, seperti dilansir University of California – Irvine (30/9/2014).

Pekerjaan ini merupakan terobosan di dalam penelitian dasar dan memfasilitasi penemuan lebih lanjut mengenai proses sel T yang suatu hari nanti dapat menghasilkan pendekatan terapi baru untuk infeksi dan penyakit autoimun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here