aterosklerosis, penyakit jantung
Kiri: penyakit jantung moderat dengan penyumbatan arteri terbatas di jantung babi. Kanan: gambar ini menunjukkan penyakit berat dengan beberapa penyumbatan yang nyaris total. Kedua biomarker ditemukan sangat tinggi hanya pada penyakit yang parah.(Credit: UNC School of Medicine)

Bhataramedia.com –┬áResistensi insulin mempengaruhi puluhan juta orang Amerika dan merupakan faktor risiko besar untuk penyakit jantung. Namun, beberapa orang dengan kondisi ini tidak pernah mengembangkan penyakit jantung, sementara beberapa mengalami penyumbatan koroner moderat. Sedangkan beberapa orang lainnya, mengalami aterosklerosis parah, kondisi di mana terjadi beberapa penyumbatan dan kerusakan arteri koroner akibat plak yang menumpuk di dinding arteri.

Para peneliti di UNC School of Medicine menciptakan model hewan, pertama dari jenisnya, untuk menentukan dua biomarker yang meningkat pada bentuk penyakit koroner yang paling parah.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal PLoS One tersebut, menunjukkan dua target baru; kolesterol LDL teroksidasi dan protein terglikasi (yaitu, fruktosamin atau hemoglobin A1c). Peneliti selanjutnya dapat menyelidiki dan mungkin menargetkannya melalui obat untuk membantu orang dengan resistensi insulin untuk menghindari jenis terburuk dari penyakit jantung.

“Jika korelasi ini juga ditemukan pada manusia dengan resistensi insulin, maka kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk mengobatinya, karena mereka akan berada pada risiko yang sangat tinggi untuk mengembangkan penyakit kardiovaskuler yang parah,” kata Timothy Nichols, M.D., profesor kedokteran dan patologi, serta penulis pertama penelitian.

Menariknya, Nichols dan rekan-rekannya pada awalnya tidak melakukan penelitian untuk menentukan dua biomarker kunci tersebut. Mereka ingin menciptakan model hewan dengan resistensi insulin yang meniru penyakit jantung manusia. Mereka memilih babi, yang secara metabolik mirip dengan manusia dan memiliki jantung yang memiliki banyak kesamaan dengan jantung manusia. Dengan memberi makan hewan tersebut dengan diet tinggi lemak dan garam selama setahun, semua babi menjadi resisten terhadap insulin. Artinya, tubuh mereka menghasilkan banyak insulin tetapi sel mereka tidak menanggapi hormon tersebut dengan normal. Semua babi juga mengembangkan aterosklerosis koroner dan aorta. Namun, hanya sekitar setengah dari babi, mengembangkan bentuk yang paling parah dari penyakit.

Ketika para peneliti memeriksa babi untuk tingkat resistensi insulin yang tinggi, mereka tidak menemukan korelasi dengan aterosklerosis yang paling parah. Ini adalah temuan yang mengejutkan dan tak terduga.

David Clemmons, M.D., Sarah Graham Kenan Professor of Medicine, profesor biokimia dan biofisika dan penulis senior penelitian, mengetahui bahwa literatur ilmiah menyarankan korelasi antara aterosklerosis dan protein terglikasi, protein yang berikatan dengan gula di dalam darah.

Clemmons dan rekannya kemudian menguji babi untuk tingkat yang tinggi dari fruktosamin dan kolesterol LDL teroksidasi, yang merupakan pengganti untuk tingkat protein terglikasi yang tinggi. Benar saja, semua babi dengan penyakit jantung berat memiliki peningkatan kadar fruktosamin dan LDL teroksidasi.

“Selain itu, korelasi ini lebih umum terjadi pada babi betina,” kata Clemmons. Empat belas dari 20 babi yang mengembangkan aterosklerosis parah adalah betina. Empat belas dari 17 babi yang tidak mengembangkan aterosklerosis parah adalah jantan. “Ini mengejutkan saya, jadi saya melihat dalam literatur untuk menemukan sesuatu yang serupa.”

Clemmons menemukan suatu studi dari Finlandia yang diterbitkan pada tahun 2005. Studi ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein terglikasi, sangat terkait dengan penyakit jantung kronis dan peningkatan mortalitas pada wanita, tetapi tidak pada pria.

“Penyebab yang mendasari korelasi ini tidak diketahui,” kata Clemmons. “Tetapi sekarang kita memiliki model hewan unik yang sangat banyak meniru apa yang kita lihat pada manusia. Model kami adalah prediktor yang baik dari diet yang menginduksi aterosklerosis pada wanita.”

Langkah selanjutnya adalah untuk mempelajari jaringan jantung yang terpengaruh untuk menemukan reaksi biokimia yang abnormal di jalur seluler yang terlibat dalam protein terglikasi dan penyakit koroner berat. Hal ini dapat mengakibatkan pada pendekatan pengobatan baru yang potensial atau intervensi diet yang sesuai.

Dilansir University of North Carolina Health Care (06/07/2015), Clemmons menambahkan, “Kami juga dapat mempelajari apa yang berbeda mengenai babi betina, sehingga membuatnya lebih rentan terhadap penyakit jantung berat, jika mereka memiliki tingkat protein terglikasi yang lebih tinggi.”

Referensi Jurnal :

Timothy C. Nichols, Elizabeth P. Merricks, Dwight A. Bellinger, Robin A. Raymer, Jing Yu, Diana Lam, Gary G. Koch, Walker H. Busby, David R. Clemmons. Oxidized LDL and Fructosamine Associated with Severity of Coronary Artery Atherosclerosis in Insulin Resistant Pigs Fed a High Fat/High NaCl Diet. PLOS ONE, 2015; 10 (7): e0132302 DOI: 10.1371/journal.pone.0132302.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here