perkebunan karet, lahan kritis
Pada lahan marginal (kritis), ada risiko tinggi untuk kegagalan perkebunan karet, sehingga mengekspos para petani terhadap risiko ekonomi.(Credit: Jianchu Xu, World Agroforestry Centre)

Bhataramedia.com – Penelitian baru menunjukkan, peningkatan jumlah lahan yang berharga untuk lingkungan dan dilindungi sedang “dihabisi” untuk perkebunan karet yang secara ekonomis tidak berkelanjutan. Pemantauan yang lebih luas, penting untuk merancang kebijakan yang melindungi mata pencaharian dan lingkungan.

Penelitian tersebut, baru-baru ini diterbitkan di Global Environmental Change dan merupakan upaya bersama oleh para ilmuwan di kantor World Agroforestry Centre (ICRAF) di Asia Timur dan Asia Tengah, Chinese Academy of Sciences, Royal Botanic Garden Edinburgh, University of Singapore dan East-West Center.

Meskipun harga karet alam secara global mengalami fluktuasi kuat dalam lima belas tahun terakhir, harganya cenderung terus meningkat, karena alternatif karet sintetis bukan merupakan tandingan lateks alami. Insentif keuangan ini, serta perluasan kelapa sawit, telah menyebabkan perkebunan karet meluas di luar zona kenyamanan tropis di Indonesia dan menuju ke pinggiran Asia Tenggara.

Hal tersebut telah membawa kekayaan bagi sebagian orang, tetapi tidak semua, kata para peneliti. Mengingat lahan marginal sering terlalu kering, terlalu miring, terlalu tinggi, terlalu basah, terlalu dingin, terlalu berangin, atau kombinasi dari semuanya, perkebunan karet memerlukan peningkatan jumlah input berupa pupuk, pestisida dan tenaga kerja untuk mempertahankan tingkat produksi.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan iklim akan membuat 70% dari areal perkebunan saat ini dan 55% dari areal perkebunan di masa depan, akan sangat buruk untuk tanaman karet. Mata pencaharian petani kecil menghadapi ancaman tambahan dari fluktuasi harga, hilangnya ketahanan pangan dan penyempitan sumber pendapatan.

Lingkungan juga ikut menderita. Lonjakan permintaan karet membuat lahan yang berharga dan dilindungi, dikonversi menjadi perkebunan karet. Hal ini secara drastis akan mengurangi stok karbon, produktivitas tanah, ketersediaan air, dan keanekaragaman hayati. Kondisi ini sangat tragis dan memiliki kesempatan kegagalan yang tinggi.

“Ada potensi yang jelas untuk skenario kerugian bagi semua bidang, ketika hutan yang dibuka untuk perkebunan karet, akan memiliki dampak negatif pada tanah dan keseimbangan air,” kata ketua peneliti, Antje Ahrends dari Royal Botanic Garden Edinburgh dan World Agroforestry Centre.

Dilansir World Agroforestry Centre (07/07/2015), pemantauan ekspansi karet secara luas dan keberlanjutan ekonominya, akan terbukti penting untuk perencanaan penggunaan lahan dan intervensi kebijakan. Tim berpendapat bahwa pembayaran yang dirumuskan dengan hati-hati untuk program jasa ekosistem, serta skema sertifikasi untuk “karet ramah lingkungan” memiliki potensi untuk mengurangi dampak lingkungan dari ekspansi karet, sembari memastikan pasokan.

“Kelapa sawit telah menerima perhatian yang lebih global daripada karet, tetapi sebenarnya dampak lingkungan dan sosial dari keduanya sebanding dan saling berhubungan. Mungkin sudah saatnya untuk berunding mengenai perkebunana karet yang berkelanjutan, dimana sektor swasta, masyarakat dan pihak ilmuwan dapat mencoba untuk menjembatani berbagai kepentingan dan menyetujui standar yang diperlukan,” kata Meine Van Noordwijk, kepala penasihat sains di World Agroforestry Centre.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here