Bhataramedia.com – Bakteri yang memetabolisme amonia, komponen utama keringat, dapat meningkatkan kesehatan kulit dan suatu hari dapat digunakan untuk pengobatan gangguan kulit, seperti jerawat atau luka kronis. Di dalam penelitian yang dilakukan oleh AOBiome LLC, para relawan yang menggunakan bakteri tersebutmelaporkan kondisi kulit dan penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol. Para peneliti mempresentasikan hasil penelitian di ASM Conference on Beneficial Microbes ke-5 di Washington, DC.

Bakteri pengoksidasi amonia (BPA) jumlahnya melimpah di tanah dan air dan merupakan komponen penting dari siklus nitrogen dan proses nitrifikasi lingkungan. Para peneliti berhipotesis bahwa BPA secara unik cocok untuk lingkungan kulit manusia karena produk oksidasi amonia, nitrit dan nitrat oksida, memainkan peran penting di dalam fungsi fisiologis kulit, termasuk peradangan, relaksasi pembuluh darah dan penyembuhan luka. BPA juga dapat meningkatkan lingkungan mikro di kulit dengan menurunkan kadar pH melalui konsumsi amonia.

Di dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan strain Nitrosomonas eutropha yang diisolasi dari sampel tanah organik. Studi ini melibatkan 24 relawan, satu kelompok menerapkan suspensi dari bakteri hidup pada wajah dan kulit kepala mereka selama satu minggu, sementara kelompok kedua menggunakan plasebo. Kedua kelompok kemudian diamati selama dua minggu. Subyek tidak menggunakan produk rambut selama minggu pertama dan kedua. Mereka kembali ke rutinitas normal mereka selama minggu ketiga.

Para pengguna BPA melaporkan peningkatan kondisi kulit yang kualitatif dibandingkan dengan tidak adanya atau peningkatan minimal yang dilaporkan oleh kelompok kontrol. Penggunaan alat tes deteksi DNA bakteri menunjukkan adanya BPA di 83-100 persen penyeka kulit yang diperoleh dari pengguna BPA selama atau segera setelah selesainya periode aplikasi satu minggu. Pada hari ke-14 60 persen BPA ditemukan pada penyeka kulit yang digunakan oleh pengguna. Namun, BPA sama sekali tidak ditemukan di dalam sampel kelompok kontrol plasebo. Anehnya, di dalam penelitian kecil ini, perbaikan kulit di antara pengguna BPA berkorelasi dengan tingkat BPA pada kulit mereka.Kedua kelompok sama sekali tidak memiliki BPA pada kulit mereka pada awal studi. Analisis lebih lanjut menyarankan modulasi potensi mikrobiota kulit dengan BPA. Hal yang penting adlah tidak adanya efek samping yang terkait dengan aplikasi topikal BPA.

“Studi ini menunjukkan bahwa bakteri Nitrosomonas hidup ditoleransi dengan baik dan dapat berpotensi sebagai agen perantara baru untuk mengirimkan nitrit dan nitrat oksida pada kulit manusia,” kata Dr. Larry Weiss, AOBiome Chief Medical Officer.

“Langkah kami selanjutnya adalah melakukan uji klinis untuk menilai potensi terapeutik BPA pada pasien dengan jerawat atau ulkus pada pasien diabetes,” tambah Weiss, seperti dilansir American Society for Microbiology (29/9/2014).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here