sincin pertumbuhan, semak tundra
Para ilmuwan menggunakan data pertumbuhan cincin, seperti yang ditampilkan pada semak willow, untuk menilai usia dan pertumbuhan semak pada studi besar mengenai tundra Arktik.(Credit: Isla Myers-Smith)

Bhataramedia.com – Penelitian menunjukkan bahwa perubahan signifikan di salah satu ekosistem paling penting bumi tidak hanya merupakan gejala dari perubahan iklim, tetapi kemungkinan juga akan mendorong pemanasan lebih lanjut.

Salah satu penelitian terbesar hingga saat ini pada vegetasi utama tundra di Arktik memberikan bukti kuat bahwa perubahan dramatis di wilayah ini sedang didorong oleh pemanasan iklim.

Studi semak tundra, yang bertindak sebagai barometer lingkungan Arktik, menunjukkan bahwa vegetasi ini tumbuh lebih banyak ketika suhu lebih hangat. Peningkatan pertumbuhan semak, yang didorong oleh pemanasan saat ini dan masa depan di Arktik, dapat menyebabkan lebih banyak pemanasan di ekosistem tundra dan untuk planet secara keseluruhan.

Dilansir University of Edinburgh (06/07/2015), semak yang lebih tinggi mencegah salju memantulkan panas dari matahari kembali ke angkasa, sehingga membuat permukaan bumi semakin panas. Hal ini juga dapat mempengaruhi suhu tanah dan pencairan permafrost. Peningkatan semak dapat mengubah siklus nutrisi dan karbon di dalam tanah, mempengaruhi dekomposisi dan jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer. Semua faktor ini dapat berkontribusi terhadap pemanasan iklim, baik di kutub utara dan pada skala global.

Studi ini menemukan bahwa spesies semak pada lanskap basah di pertengahan garis lintang dari Arktik, merupakan yang paling sensitif terhadap pemanasan iklim. Daerah ini rentan terhadap perubahan karena menyimpan sejumlah besar karbon dalam tanah beku, yang dapat dirilis oleh pemanasan dan pencairan permafrost.

Tim ilmuwan internasional pada 37 lokasi di sembilan negara, yang dipimpin oleh University of Edinburgh, mempelajari catatan pertumbuhan semak selama 60 tahun dengan menganalisis cincin pertumbuhan tahunan di batang tanaman, untuk mengeksplorasi hubungan antara iklim dan perubahan vegetasi.

Penelitian yang diterbitkan di Nature Climate Change tersebut, didanai oleh International Arctic Science Committee. Temuan ini akan membantu meningkatkan model perubahan masa depan ekosistem tundra dan dampak dari perubahan ini pada iklim global.

Dr. Isla Myers-Smith, dari University of Edinburgh’s School of GeoSciences, yang mengkoordinasi penelitian, mengatakan : “Pertumbuhan semak Arktik di tundra adalah salah satu contoh yang paling signifikan di Bumi, akibat pengaruh perubahan iklim yang terjadi terhadap ekosistem. Temuan kami menunjukkan ada banyak variasi di seluruh lanskap ini. Memahami ini akan membantu meningkatkan prediksi dampak perubahan iklim terhadap tundra.”

Referensi Jurnal :

Isla H. Myers-Smith, Sarah C. Elmendorf, Pieter S. A. Beck, Martin Wilmking, Martin Hallinger, Daan Blok, Ken D. Tape, Shelly A. Rayback, Marc Macias-Fauria, Bruce C. Forbes, James D. M. Speed, Noémie Boulanger-Lapointe, Christian Rixen, Esther Lévesque, Niels Martin Schmidt, Claudia Baittinger, Andrew J. Trant, Luise Hermanutz, Laura Siegwart Collier, Melissa A. Dawes, Trevor C. Lantz, Stef Weijers, Rasmus Halfdan Jørgensen, Agata Buchwal, Allan Buras, Adam T. Naito, Virve Ravolainen, Gabriela Schaepman-Strub, Julia A. Wheeler, Sonja Wipf, Kevin C. Guay, David S. Hik, Mark Vellend. Climate sensitivity of shrub growth across the tundra biome. Nature Climate Change, 2015; DOI: 10.1038/nclimate2697.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here