virus MERS-COV. (Photo: Centers for Disease Control and Prevention
Virus MERS-COV. (Photo: Centers for Disease Control and Prevention)

Bhataramedia.com –¬†Epidemi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang tejadi di Korea Selatan terus berlanjut. Para peneliti sedang berupaya untuk menemukan pengobatan untuk virus mematikan tersebut, yang telah menewaskan lebih dari 400 orang sejak pertama kali ditemukan tiga tahun lalu di Arab Saudi.

Penyakit MERS dapat menyebabkan gejala pernapasan yang parah dan memiliki tingkat kematian 40 persen. Saat ini, para ilmuwan di University of Maryland School of Medicine dan Regeneron Pharmaceuticals, Inc., telah menemukan dan memvalidasi dua terapi yang menunjukkan potensi untuk mencegah dan mengobati MERS. Terapi ini adalah yang pertama kali berhasil melindungi dan mengobati hewan model dari virus MERS. Studi ini muncul di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

“Meskipun masih awal, temuan ini menarik dan memiliki potensi nyata untuk membantu pasien MERS,” kata seorang peneliti utama studi, Matthew B. Frieman, Ph.D., asisten profesor mikrobiologi dan imunologi di Universitas Maryland School of Medicine (UM SOM). “Kami berharap untuk melakukan uji klinis pada dua antibodi ini untuk melihat apakah pada akhirnya dapat digunakan untuk membantu manusia yang terinfeksi virus MERS.”

Penelitian ini dilakukan bekerjasama dengan perusahaan biofarmasi, Regeneron. Kedua antibodi, REGN3051 dan REGN3048, menunjukkan kemampuan untuk menetralisir virus MERS. Peneliti menggunakan beberapa teknologi milik perusahaan tersebut untuk mencari dan memvalidasi antibodi yang secara efektif menargetkan virus MERS.

MERS pertama kali ditemukan pada tahun 2012 di Arab Saudi. Tampaknya penyakit ini menyebar ke manusia dari unta, yang telah terinfeksi oleh kelelawar. Penelitian telah menunjukkan bahwa MERS mirip dengan Severe acute respiratory syndrome (SARS). Keduanya disebabkan oleh Coronavirus, menyebabkan masalah pernapasan dan sering berakibt fatal.

Penelitian ini juga mengumumkan pengembangan strain tikus baru, yang akan membantu ilmuwan untuk memahami penyakit dan mencari pengobatan. Karya ini mengandalkan teknologi VelociGen milik Regeneron untuk menciptakan tikus yang dapat terinfeksi MERS.

“Tikus biasanya tidak rentan terhadap MERS,” kata Prof. Frieman, ahli virus MERS dan SARS. “Model tikus baru ini secara signifikan akan meningkatkan kemampuan kita untuk mempelajari perawatan potensial dan membantu para ilmuwan untuk memahami bagaimana virus MERS menyebabkan penyakit pada manusia,” jelas Prof. Frieman, seperti dilansir University of Maryland Medical Center/School of Medicine (29/06/2015).

Wabah di Korea Selatan dimulai bulan lalu ketika seorang musafir kembali dari Arab Saudi, dan menginfeksi banyak orang sebelum pihak berwenang menyadarinya. Sejauh ini, sekitar 180 orang telah terinfeksi di Korea Selatan dan hampir 30 telah meninggal.

“Karya Prof. Frieman menyediakan secercah harapan untuk dapat mengobati dan menyembuhkan virus yang mengancam ini,” kata Dean E. Albert Reece, M.D, Ph.D., MBA, yang juga wakil presiden untuk urusan medis, University of Maryland. “Saya mengetahui bahwa mereka akan terus bekerja keras untuk melihat apakah senyawa ini dapat diajukan untuk tahap uji klinis.”

Referensi Jurnal :

Kristen E. Pascal, Christopher M. Coleman, Alejandro O. Mujica, Vishal Kamat, Ashok Badithe, Jeanette Fairhurst, Charleen Hunt, John Strein, Alexander Berrebi, Jeanne M. Sisk, Krystal L. Matthews, Robert Babb, Gang Chen, Ka-Man V. Lai, Tammy T. Huang, William Olson, George D. Yancopoulos, Neil Stahl, Matthew B. Frieman, and Christos A. Kyratsous. Pre- and postexposure efficacy of fully human antibodies against Spike protein in a novel humanized mouse model of MERS-CoV infection. PNAS, June 2015 DOI: 10.1073/pnas.1510830112.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here