terumbu karang
Studi baru menunjukkan bahwa beberapa karang, seperti di sepanjang bagian utara Great Barrier Reef, memiliki gen untuk beradaptasi dengan lautan yang lebih hangat.(Credit: Line K Bay, Australian Institute of Marine Science)

Bhataramedia.com – Beberapa populasi karang sudah memiliki varian genetik yang diperlukan untuk mentolerir perairan laut yang menghangat dan manusia dapat membantu untuk menyebarkan gen ini. Hal ini berdasarkan temuan tim ilmuwan dari University of Texas di Austin, Australian Institute of Marine Science dan Oregon State University.

Penemuan ini memiliki implikasi bagi banyak terumbu karang yang saat ini terancam oleh pemanasan global. Selain itu, penelitian ini untuk pertama kalinya menunjukkan bahwa mencampur dan mencocokkan karang dari garis lintang yang berbeda dapat meningkatkan kelangsungan hidup terumbu karang.

Penemuan ini dipublikasikan minggu ini di jurnal Science.

Para peneliti menyilangkan karang dengan habitat perairan hangat dari Great Barrier Reef di Australia dengan karang dari wilayah lintang yang lebih dingin, hampir 300 mil ke selatan. Para ilmuwan menemukan bahwa larva karang dengan indukan dari utara (dimana perairannya sekitar 2 derajat Celcius lebih hangat), 10 kali lebih mungkin untuk bertahan hidup dari stres panas, dibandingkan dengan larva yang memiliki indukan dari selatan. Dengan menggunakan alat genomik, para peneliti mengidentifikasi proses biologis yang bertanggung jawab untuk toleransi panas dan menunjukkan bahwa toleransi panas dapat berevolusi dengan cepat berdasarkan variasi genetik yang ada.

“Penelitian kami menemukan bahwa karang tidak perlu menunggu mutasi baru untuk muncul. Mencegah kepunahan karang dapat dimulai dengan sesuatu yang sederhana, seperti persilangan karang untuk menyebarkan varian genetik yang sudah ada,” kata Mikhail Matz, seorang profesor biologi integratif di University of Texas di Austin.

“Larva karang dapat bergerak melintasi lautan secara alami, tetapi manusia juga dapat berkontribusi dengan merelokasi karang dewasa untuk mempercepat proses,” tutur Matz, seperti dilansir University of Texas at Austin (25/06/2015).

Di seluruh dunia, terumbu karang telah rusak parah oleh naiknya suhu permukaan laut. Bleaching, suatu proses yang dapat menyebabkan kematian karang yang luas akibat hilangnya alga simbiotik karang, telah dikaitkan dengan memanasnya perairan. Beberapa karang, bagaimanapun, memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk suhu tinggi, meskipun sampai sekarang tidak ada yang mengerti mengapa beberapa adaptasi satu jenis karang berbeda dari yang lain.

“Penemuan ini menambah pemahaman kita tentang potensi karang untuk mengatasi lautan yang semakin panas,” kata Baris Bay, seorang ahli ekologi evolusi dari Australian Institute of Marine Science, Townsville.

Karang pembentuk terumbu dari spesies di utara Samudera Pasifik dan Laut Karibia, mirip dengan yang digunakan dalam penelitian ini. Sehingga, terumbu karang mendapatkan manfaat dari upaya konservasi dan pemulihan yang melindungi karang yang paling toleran terhadap panas dan memprioritaskannya untuk setiap inisiatif restorasi yang melibatkan propagasi buatan.

“Temuan ini menimbulkan harapan dan optimisme mengenai terumbu karang dan kehidupan laut yang berkembang di sana,” kata Matz.

Selain Matz dan Bay, penulis studi lainnya adalah Groves Dixon, Sarah Davies dan Galina Aglyamova di UT Austin dan Eli Meyer dari Oregon State University.

Penelitian ini didukung oleh dana dari National Science Foundation dan Australian Institute of Marine Science.

Referensi Jurnal :

Groves B. Dixon, Sarah W. Davies, Galina A. Aglyamova, Eli Meyer, Line K. Bay, Mikhail V. Matz. Genomic determinants of coral heat tolerance across latitudes. Science, 2015 DOI: 10.1126/science.1261224.