Bhataramedia.com – Pendidikan Indonesia saat ini amat tertinggal dibanding negara-negara lain. Berdasarkan data dari The Learning Curve Pearson 2014 pada Mei silam, Indonesia menempati urutan terakhir dari 40 negara dalam hal mutu pendidikan. Indonesia menjadi negara dengan mutu pendidikan terburuk di bawah Meksiko, Brasil, Argentina, Kolombia, dan Thailand.

Kita tentu bertanya-tanya, mengapa kualitas pendidikan Indonesia begitu anjlok di mata internasional. Padahal, setiap tahun standar kelulusan melalui Ujian Nasional dinaikkan. Jumlah siswa lulus pun semakin mendekati angka 100% setiap tahun. Subsidi juga sudah dikeluarkan untuk menopang pendidikan bagi yang kurang mampu.

Diolah dari berbagai sumber, di bawah ini adalah penyebab umum mengapa mutu pendidikan Indonesia begitu rendah.

Pembelajaran hanya mengacu buku paket

Hampir setiap pergantian menteri pendidikan, kurikulum juga selalu di-upgrade ke level yang lebih efektif. Namun, pengaruhnya ke kualitas pendidikan hampir tidak ada, karena guru-guru masih mengandalkan buku paket sebagai satu-satunya bahan acuan tanpa tambahan referensi. Sejak tahun 60-an, boleh dikatakan mutu pendidikan kita tidak bergeser terlalu banyak.

Mengajar satu arah

Metode paling umum yang digunakan guru ketika mengajar adalah “ceramah”. Siswa diposisikan sebagai audiens yang harus duduk tenang, mendengarkan uraian guru, dan mencatat jika disuruh. Siswa tidak dibiasakan bertanya, memulai perdebatan, atau mempertahankan pendapat. Semua yang dikatakan guru seakan tidak boleh dibantah, terutama pada jenjang pendidikan dasar. Maka jika diminta bertanya di akhir pelajaran, bisa dipastikan hampir tidak ada yang mengacungkan tangan. Siswa yang bertanya pun hanya itu-itu saja.

Jarang sekali ada guru yang mengajak siswa diskusi, belajar di luar kelas, atau mendatangkan seorang profesional untuk menjelaskan ilmu dari tangan pertama.

Metode menghapal, bukan memahami

Diakui, siswa-siswa Indonesia hanya dibiasakan dengan pertanyaan “apa”, namun kurang terbiasa pada “mengapa” dan “bagaimana”. Metode pengajaran ini membuat siswa hanya bagus di sisi pengetahuan, namun gagap dalam analisis. Satu contoh, saat belajar Sejarah, siswa hanya diminta menghapal nama Adolf Hitler sebagai pencetus Perang Dunia II. Namun, mengapa Hitler melakukan hal tersebut, atau bagaimana Hitler mampu mendongkrak bangsa Jerman yang terpuruk hanya dalam waktu sepuluh tahun, masih jarang sekali ada guru yang mengajak siswanya mendiskusikan hal tersebut.

Orientasi ke nilai

Ini adalah fakta yang cukup membuat miris. Siswa-siswa dituntut untuk mendapat nilai bagus, bahkan ranking kelas diurutkan dari ranking satu hingga terakhir. Akibatnya, banyak siswa yang mengambil jalan pintas seperti menyontek hingga membeli kunci jawaban agar nilainya tidak anjlok. Yang menjadi tujuan bukan lagi ilmu dan pemahaman, melainkan nilai. Maka jangan heran ketika lulusan sekolah bergengsi dengan nilai tinggi justru tidak bisa menerapkan ilmu yang dipelajarinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here