Bhataramedia.com– Samudera Pasai terkenal sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Didirikan pada 1267 Masehi oleh Raja Meurah Silu yang berganti nama menjadi Malik Al Saleh. Kerajaan ini merupakan gabungan dari Kerajaan Pasai dan Peurlak yang berada di Aceh.

Keberadaan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama masih diakui sekalipun ada Kerajaan Barus di Sumatera Utara yang sudah melakukan perdagangan sejak abad 7 Masehi. Alasannya, menurut arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, Samudera Pasai memiliki bukti-bukti fisik yang menunjukkan pernah ada raja atau sultan yang memerintah pada saat itu, sementara pada Barus belum ditemukan bukti serupa.

Sebenarnya, pusat Kesultanan Samudera Pasai belum ditemukan secara resmi oleh para peneliti dan arkeolog. Bukti-bukti mengenai kerajaan ini banyak disandarkan pada catatan-catatan perjalanan para pedagang asing yang mampir ke Samudera Pasai. Catatan tersebut kemudian dicocokkan dengan tanggal-tanggal yang tertera di batu nisan yang banyak ditemukan oleh peneliti.

Nicolaus de Graf, orang Belanda yang datang ke Aceh pada tahun 1641, menuliskan bahwa bangunan paling mencolok yang ada di Samudera Pasai adalah istana. Pedagang Beaulieu menambahkan, di sekitar istana banyak berdiri masjid, perkampungan, dan pasar. Rumah-rumah penduduk dibangun menggunakan bambu setinggi 120 cm hingga 180 cm. Hal yang sama dikatakan oleh Dampier, pelaut Inggris yang singgah ke Aceh pada 1688.

Hingga saat ini, peneliti masih mencari bukti tentang keberadaan masjid, perkampungan, dan pasar seperti yang dituliskan penjelajah asing. Namun, belum ditemukan bukti apapun selain nisan yang membentuk kompleks pemakaman. Hanya di Cot Astana yang mulai ditemukan struktur batu bata.

Karena masih belum ditemukan, banyak masyarakat Aceh berpendapat reruntuhan Samudera Pasai masih tersembunyi jauh di bawah lantai rumah-rumah mereka. Yang menyedihkan, masyarakat sekitar mulai menjual sisa-sisa peninggalan kerajaan yang mereka temukan dari penggalian mandiri. Mata pencaharian masyarakat sekitar Kecamatan Samudera adalah berladang dan mencari ikan, namun penghasilan terbesar mereka justru dari akik.

Oleh warga, batu akik yang tersebar di lahan mereka mulai digali. Setelah digosok, batu tersebut dijual seharga Rp 50.000. Batu akik itu berwarna merah, teksturnya mirip karang, dan diduga berasal dari benteng kerajaan. Terdapat juga pecahan keramik warna putih dan biru yang dijual dengan harga sama. Pecahan keramik ini diklaim berasal dari dinding istana kerajaan. Masih ada lagi kepingan dirham emas yang digali warga setelah hujan turun. Logam ini dijual seharga Rp 700.000 per keping.

Penelitian situs Samudera Pasai pernah dilakukan pada 1970, hanya saja tidak ada kelanjutannya. Di sekitar situs Samudera Pasai yang masih berupa kumpulan nisan, juga belum ditemukan plakat yang menunjukkan bahwa areal tersebut dilindungi oleh Undang-Undang Cagar Budaya.

Jika tidak segera diteruskan, maka peninggalan kerajaan Samudera Pasai akan habis tak bersisa lantaran dijual kepada kolektor-kolektor swasta. Tentunya amat disayangkan jika sisa kejayaan kerajaan digerus senti demi senti hanya demi selembar lima puluh ribuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here