Bhataramedia.com – Dari sekian banyak suku di Kepulauan Maluku, Suku Naulu merupakan suku yang memiliki tradisi sangat mengerikan. Suku yang merupakan salah satu suku terasing di Pulau Seram ini terkenal dengan tradisinya memenggal kepala dan memutilasi manusia. Kepala-kepala tersebut dipotong lepas dari tubuhnya guna dipersembahkan kepada rumah adat.

Peristiwa pemenggalan ini sempat membuat geger publik pada Juli 2005 silam. Saat itu, warga Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah dikejutkan dengan penemuan dua mayat tanpa kepala. Bonefer Nuniary dan Brusly Lakrane adalah nama dua orang menjadi korban Suku Naulu sebagai persembahan kepada rumah adat marga Sounawe. Selain kepala, bagian tubuh lain yang diambil untuk diasapi yakni jantung, lidah, dan jari-jari.

Bagian tubuh yang tidak terpakai kemudian dihanyutkan ke Sungai Ruata, tidak jauh dari perkampungan Suku Naulu komunitas Nuane. Dari sini, penyelidikan polisi membawa hasil yang mengejutkan.

Enam orang warga Suku Naulu ditangkap setelah terbukti melakukan mutilasi terencana kepada dua korban tersebut. Patti Sounawe, Nusy Sounawe, dan Sekeranane Soumorry divonis mati oleh Pengadilan Negeri Masohi, sementara Saniayu Sounawe, Tohonu Somory, dan Sumon Sounawe dihukum seumur hidup.

Raja Naulu, Sahune Matoke, mengatakan enam warganya melakukan pembunuhan tersebut karena tidak tahu hukum pidana yang berlaku di Indonesia. Mereka hanya melakukannya karena dorongan untuk memenuhi upacara adat yang sakral.

Kejadian serupa pernah terjadi di tahun 1990. Waktu itu tiga orang warga Suku Naulu dihukum 17 tahun penjara karena membunuh dua orang yang sedang berburu di hutan.

Sebelum dua kejadian itu, warga Pulau Seram tidak ada yang mengetahui tentang tradisi pemenggalan kepala tersebut. Sekalipun tergolong masyarakat adat tertinggal, namun Suku Naulu yang berdiam di Nuane, Bonara, Naulu Lama, Hauwalan, dan Rohua, masih menganut agama kepercayaan warisan leluhur. Tidak ada yang menduga bahwa salah satu ajaran dari keyakinan itu adalah mempersembahkan anggota tubuh manusia.

Dulu saat perang antar suku masih terjadi di Pulau Seram, tradisi yang dilakukan lebih sadis lagi. Raja yang ingin menikahkan anak perempuannya biasanya akan meminta mempelai laki-laki untuk mempersembahkan kepala musuh sebagai mas kawin. Semakin banyak kepala musuh, semakin “jantan” pula pamor si menantu di mata raja.

Selain potong kepala, Suku Naulu juga memiliki tradisi mengasingkan perempuan haid dan hamil. Mereka ditempatkan di sebuah tikusune, gubuk kecil yang letaknya terpencil dari perkampungan. Laki-laki sama sekali dilarang menginjakkan kaki di tikusune. Setelah haid selesai dan bayi lahir, barulah perempuan-perempuan ini boleh pulang ke rumah. Biasanya mereka akan disambut dengan meriah, terutama jika bayi yang dilahirkan berjenis kelamin laki-laki.

Kebiasaan adat yang terakhir ini masih bisa ditolerir dan tidak mendapat sanksi dari pemerintah. Saat ini, Suku Naulu mendapat binaan langsung dari Dinas Sosial. Perkampungan Suku Naulu yang berisi 525 keluarga atau sekitar 900 jiwa itu juga masih belum tersentuh pembangunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here