Sauerkraut. Makanan Jerman dari kubis yang diiris halus dan difermentasi oleh berbagai bakteri asam laktat.
Sauerkraut. Makanan Jerman dari kubis yang diiris halus dan difermentasi oleh berbagai bakteri asam laktat.

Bhataramedia.com – Kemungkinan hubungan antara makanan fermentasi yang mengandung probiotik dan gejala kecemasan(anxietas) sosial, adalah fokus dari penelitian terbaru. Penelitian ini merupakan tahap pertama dimana para peneliti telah merencanakan untuk terus mengeksplorasi hubungan pikiran dan usus, termasuk pemeriksaan lain dari data untuk melihat apakah ada korelasi antara asupan makanan dan gejala autisme.

Para peneliti William & Mary (W & M) menunjukkan bahwa perut juga dapat memainkan peran kunci terhadap kesehatan mental. Bahkan pepatah lama “Anda adalah apa yang Anda makan” bukan hanya klise.

Baru-baru ini, Profesor Psikologi W & M, Matthew Hilimire dan Catherine Forestell bergabung dengan Asisten Profesor University of Maryland School of Social Work, Jordan DeVylder untuk menyelidiki kemungkinan hubungan antara makanan fermentasi yang mengandung probiotik dan kecemasan sosial. Para peneliti menemukan bahwa orang dewasa muda yang makan lebih banyak makanan fermentasi memiliki gejala kecemasan sosial yang lebih sedikit, dengan efek yang terbesar terjadi pada mereka yang berisiko genetik untuk gangguan kecemasan sosial, yang diukur dengan adanya neurotisisme.

Neurotisisme menggambarkan seseorang yang memiliki masalah dengan emosi yang negatif seperti rasa khawatir dan rasa tidak aman.

Penelitian ini diterbitkan di jurnal Psychiatry Research.

“Sangat mungkin bahwa probiotik dalam makanan fermentasi dapat menguntungkan karena mengubah lingkungan dalam usus, dan perubahan dalam usus pada gilirannya akan mengurangi kecemasan sosial,” kata Hilimire, seperti dilansir University of Maryland, Baltimore (9/6/2015). “Saya berpikir bahwa benar-benar menarik karena mikroorganisme dalam usus Anda dapat mempengaruhi pikiran Anda.”

“Temuan utama adalah bahwa orang yang mengkonsumsi lebih banyak makanan fermentasi telah mengalami penurunan kecemasan sosial, namun hanya pada orang yang masuk dalam kategori neurotisisme.” kata Hilimire.

Temuan sekunder adalah bahwa lebih banyak olahraga terkait dengan berkurangnya kecemasan sosial.

DeVylder mencatat bahwa penelitian selama beberapa tahun terakhir telah semakin menunjukkan hubungan yang erat antara nutrisi dan kesehatan mental. “Studi ini menunjukkan bahwa orang dewasa muda yang rentan terhadap kecemasan kurang sosial akan membaik jika mereka sering mengkonsumsi makanan yang difermentasi dengan probiotik. Hasil awal menyoroti kemungkinan bahwa kecemasan sosial dapat dikurangi melalui intervensi gizi berisiko rendah, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah peningkatan konsumsi probiotik secara langsung menyebabkan pengurangan kecemasan sosial, “katanya.

Referensi Jurnal :

Matthew R. Hilimire, Jordan E. DeVylder, Catherine A. Forestell. Fermented foods, neuroticism, and social anxiety: An interaction model. Psychiatry Research, 2015; 228 (2): 203 DOI: 10.1016/j.psychres.2015.04.023.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here