Keanekaraman hayati. (Credit: Courtesy of the University of South Florida)
Keanekaraman hayati. (Credit: Courtesy of the University of South Florida)

Bhataramedia.com – Akibat adanya peningkatan penyakit menular di seluruh dunia, kebutuhan untuk memahami bagaimana dan mengapa wabah penyakit terjadi menjadi semakin penting. Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim ahli biologi University of South Florida (USF) menemukan bukti yang luas yang mendukung adanya hipotesis yang kontroversial, yaitu hipotesis efek dilusi, yang menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati membatasi penyebaran wabah penyakit di antara manusia dan satwa liar.

Hipotesis efek dilusi menunjukkan bahwa komunitas ekologi yang beragam membatasi penyebaran penyakit melalui beberapa mekanisme. Oleh karena itu, berkurangnya keanekaragaman hayati bisa memperburuk epidemi yang membahayakan manusia dan satwa liar.

Namun, ada perdebatan kontroversial mengenai apakah hipotesis ini berlaku secara luas, terutama untuk parasit yang menginfeksi manusia. Sampai saat ini, belum ada penilaian kuantitatif untuk luas mendukung atau membantahnya, dan kurangnya bukti telah menjadi penghambat untuk memahami hubungan antara keanekaragaman hayati dan risiko penyakit.

Para peneliti berupaya menjawab pertanyaan mendasar ini dengan meta-analisis formal terhadap lebih dari 200 parameter yang berkaitan keanekaragaman hayati terhadap penyakit pada lebih dari 60 sistem host-parasit.

“Penelitian kami menemukan bukti luas bahwa ekosistem kaya spesies memiliki tingkat penyakit menular yang rendah, dan tingkat penyakit yang dipengaruhi oleh kepadatan host, desain penelitian, jenis dan spesialisasi parasit, dan apakah parasit menginfeksi manusia atau satwa liar, menunjukkan bahwa dilusi telah terjadi di semua konteks ekologi yang diperiksa, “ kata Dr. David Civitello, peneliti postdoctoral di Department of Integrative Biology, USF, seperti lansir EurekaAlert (15/6/2015).

“Hal ini menunjukkan bahwa mempertahankan keanekaragaman hayati di alam dapat mengurangi kelimpahan banyak parasit manusia dan satwa liar. “Sebaliknya, penurunan keanekaragaman yang disebabkan oleh manusia berkontribusi meningkatnya penyakit manusia dan satwa liar. “jelas Civitello.

Menurut Dr. Jason Rohr, profesor di USF Department of Integrative Biology, mereka juga menemukan efek yang sama dari keanekaragaman hayati dalam sistem tanaman-herbivora. “Kami juga menemukan bahwa keanekaragaman hayati tanaman dapat mengurangi kelimpahan hama herbivora. Jadi, keanekaragaman hayati dapat menghambat dua jenis musuh alami yang berbahaya, yaitu parasit dan hama herbivora, dan hal ini dapat meningkatkan stabilitas dan produksi ekosistem alam. ”

Temuan ini diterbitkan di edisi terbaru dari Prosiding National Academy of Sciences.

Referensi Jurnal :

David J. Civitello, Jeremy Cohen, Hiba Fatima, Neal T. Halstead, Josue Liriano, Taegan A. McMahon, C. Nicole Ortega, Erin Louise Sauer, Tanya Sehgal, Suzanne Young, Jason R. Rohr Keanekaragaman menghambat parasit: bukti Luas untuk efek dilusi . Prosiding National Academy of Sciences , 2015; 201506279 DOI: 10,1073 / pnas.1506279112.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here