dokter
Ilustrasi.

Bhataramedia.com – Suatu teknik baru untuk mempelajari protein, yang tidak memerlukan peralatan canggih, laboratorium khusus atau reagen mahal, telah dikembangkan di Universitas Uppsala, Swedia. Teknik ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk digunakan pada perangkat kesehatan, misalnya untuk tujuan diagnostik.

Kemungkinan untuk mengidentifikasi dan melokalisasi protein di dalam jaringan sangat penting untuk pemahaman mekanisme penyakit dan diagnosa. Namun, saat ini, instrumen yang sangat canggih sering diperlukan untuk mempelajari protein dan bagaimana protein berinteraksi satu sama lain. Contohnya adalah teknik mikroskopik yang mendapatkan penghargaan Nobel tahun lalu pada bidang kimia; super resolution fluorescence microscopy.

Peralatan tersebut mahal dan sering membutuhkan pelatihan khusus untuk digunakan. Agar dapat menggunakan deteksi protein untuk tujuan diagnostik, misalnya di klinik, diperlukan metode baru yang sederhana untuk mempelajari protein. Metode tersebut harus sensitif terhadapa suhu dan tidak memerlukan instrumen mahal, reagen mahal atau staf terlatih khusus.

Pada jurnal Nature Communications edisi terbaru, para peneliti menyajikan suatu teknik yang dapat digunakan oleh staf rumah sakit, untuk mendeteksi protein yang relevan. Teknik ini didasarkan pada pengikatan antibodi, baik untuk dua situs di protein yang sama atau dua protein yang terlokalisasi sangat dekat satu sama lain. Antibodi telah dikaitkan dengan untai DNA yang akan melekat satu sama lain jika mereka cukup dekat. Ketika ini terjadi, reaksi berantai akan mulai, dimana terjadi peningkatan pelekatan jumlah untai DNA. Untuk setiap untai DNA, zat fluoresensi akan menempel, sehingga akan memancarkan cahaya ketika disinari dengan cahaya dari panjang gelombang tertentu.

“Ketika reaksi berantai telah berjalan selama beberapa saat, molekul fluoresensi telah cukup dimasukkan, sehingga memungkinkan kita untuk mengamati molekul ini sebagai titik yang sangat terang di mikroskop. Hal ini akan mencerminkan keberadaan dari suatu protein yang diinginkan. Semakin banyak titik, ada lebih banyak protein,” kata Ola Soderberg, yang telah mengembangkan teknik ini, bersama-sama dengan Masood Kamali-Mogaddam dan tim penelitian mereka.

Reaksi berantai yang terjadi tidak melibatkan enzim apapun, sehingga dapat berarti bahwa teknik baru ini dapat berlangsung pada suhu kamar. Mikroskop diperlukan untuk mempelajari titik-titik terang yang relatif sederhana dan biasanya tersedia di rumah sakit dan laboratorium penelitian. Oleh karena dua antibodi terikat pada langkah pertama, kesalahan deteksi dapat dihindari, karena akan membuat reaksi yang sangat spesifik untuk protein yang dipelajari.

“Semua ini menunjukkan bahwa teknik kami dapat digunakan sebagai metode yang kuat dan murah untuk melokalisasi protein di dalam jaringan. Kami berharap bahwa teknik ini dapat segera digunakan, baik untuk aplikasi klinis dan untuk tujuan penelitian “, kata Ola Soderberg, seperti dilansir Uppsala Universitet (12/06/2015)

Teknik ini telah dikembangkan bekerja sama dengan peneliti di Uppsala, Skotlandia dan Austria. Hasilnya telah dipublikasikan secara online di jurnal Nature Communications.

Referensi Jurnal :

Björn Koos, Gaëlle Cane, Karin Grannas, Liza Löf, Linda Arngården, Johan Heldin, Carl-Magnus Clausson, Axel Klaesson, M. Karoliina Hirvonen, Felipe M. S. de Oliveira, Vladimir O. Talibov, Nhan T. Pham, Manfred Auer, U. Helena Danielson, Johannes Haybaeck, Masood Kamali-Moghaddam, Ola Söderberg. Proximity-dependent initiation of hybridization chain reaction. Nature Communications, 2015; 6: 7294 DOI: 10.1038/ncomms8294.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here