Bhataramedia.com – Pola pikir terus memacu nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setinggi-tingginya masih dipegang oleh sebagian besar mahasiswa Indonesia. Alasannya, sarjana dengan IPK tinggi lebih diperhitungkan di dunia kerja. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun juga bukan keharusan mutlak.

IPK tinggi memang menguntungkan ketika akan melamar beasiswa bergengsi atau perusahaan besar. Namun, hardskill berupa kemampuan akademik yang tercermin dari jumlah IPK tentu akan lebih baik jika dikombinasikan dengan softskill berupa pengalaman organisasi.

Selama ini, mahasiswa yang hanya fokus kuliah dicap sebagai mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang – kuliah pulang). Mereka identik dengan mahasiswa yang kuper, kutu buku, tak punya koneksi, dan academic oriented. Di sisi lain, mahasiswa aktivis organisasi terkenal malas kuliah, IPK jeblok, tidak suka belajar, dan lulus terlambat. Mahasiswa yang fokus akademik akan mengklaim dirinya benar karena tujuan mereka susah-susah masuk ke kampus adalah untuk belajar.

Sementara mahasiswa organisasi akan menganggap dirinya lebih baik karena di samping dicekoki teori, mereka juga belajar bersosialisasi dan penerapannya.

Sebenarnya, pertentangan stereotip di atas tidaklah mutlak terjadi di dunia perkuliahan. Pasalnya, banyak sekali mahasiswa aktivis yang punya IPK bagus, lulus cepat, dan tidak meninggalkan kuliah dengan alasan organisasi. Anggi Pricilia Tampubolon adalah salah satu contoh. Mahasiswi Vokasi Universitas Indonesia (UI) jurusan Humas tersebut dinobatkan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi sejumlah 3,82 dari 102 SKS pada tahun 2013. Padahal, selain fokus kuliah, Anggi juga aktif di organisasi Koalisi Pemuda Hijau Indonesia, Himpunan Mahasiswa, serta project Metro TV on Campus.

Masalahnya mungkin hanya terletak pada kesalahan persepsi pada mahasiswa. Kuliah “dan” organisasi, bukan kuliah “atau” organisasi. Kuliah dan organisasi seharusnya tidak diletakkan pada posisi saling berhadapan, karena keduanya berbeda dan bisa beriringan satu sama lain.

Rata-rata, orang yang sukses memiliki catatan pernah mengikuti organisasi tertentu dalam daftar riwayat hidupnya. Sejatinya tidak perlu muluk-muluk untuk aktif di sebuah organisasi. Jika ingin eksis di organisasi namun kuliah tetap lancar, pilihlah organisasi yang sesuai passion atau minat kita. Misalnya mahasiswa Komunikasi, selain mendapat teori-teori penyiaran dan jurnalistik di kelas, ada baiknya mereka mengikuti organisasi yang senafas di luar kelas seperti Radio Kampus dan Buletin Kampus.

Dua hal tersebut, akademik dan organisasi, ibarat dua sisi pisau yang harus dimiliki mahasiswa sebagai senjata. Bisa dibayangkan, bagaimana nanti ketika terjun di masyarakat, mahasiswa yang “hanya” mementingkan kuliah akan gagap dalam pergaulan karena kurang terlatih dalam sosialisasi, padahal IPK-nya cum laude. Begitu juga ketika melamar pekerjaan, betapa mahasiswa yang “hanya” mementingkan organisasi akan dipusingkan dengan IPK yang rendah, padahal sosialisasinya jempolan. Kesimpulannya, akademik dan organisasi sebaiknya berjalan bersamaan karena “organisasi tanpa kuliah adalah buta dan kuliah tanpa organisasi adalah pincang”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here