Bhataramedia.com – Disleksia adalah salah satu penyakit yang sering menyerang anak-anak, hal ini seperti dilansir Mayoclinic.com. Penyakit ini ditandai dengan adanya kesulitan dalam membaca dan mempelajari sesuatu. Menurut penelitian, disleksia merupakan penyakit yang mempengaruhi kinerja otak oleh sifat-sifat bawaan sejak lahir,karena itu hingga saat ini belum ada obat tertentu yang bisa menyembuhkan penyakit gangguan belajar ini.

Ada beberapa gejala yang bisa dilihat untuk mendeteksi apakah seorang anak mengalami disleksia atau tidak. Gejala yang dapat dilihat saat seorang anak belum memasuki bangku sekolah adalah anak sangat lamban dalam berbicara dan lamban untuk mempelajari kata-kata yang ia dengar.Namun sering kali gejala ini tidak mudah untuk dikenali sebagai tanda disleksia.

Saat anak memasuki bangku sekolah, sang guru biasanya yang akan menyadari adanya gejala disleksia pada anak. Gejala-gejala tersebut diantaranya adalah kesulitan untuk memahami apa yang didengar, kesulitan dalam memahami instruksi, kemampuan membacanya dibawah rata-rata, sulit untuk melihat dan mendengar, sulit dalam mengurutkan sesuatu, sulit mengeja, sulit membedakan huruf, dan tidak mampu mengucapkan bahasa asing.

Anak-anak yang normal biasanya dapat mempelajari bahasa pada usia taman kanak-kanak atau Sekolah Dasar. Namun anak-anak disleksia tidak mampu mempelajari bahasa pada usia tersebut. Dan apabila gejala ini tidak terdeteksi, sang anak bisa saja mengalami kesulitan membaca sampai dewasa.

Remaja dan dewasa juga bisa mengalami disleksia apabila terlambat menyadari penyakit tersebut sejak kecil. Gejala yang muncul pada remaja disleksia adalah kesulitan dalam membaca, menghafal, meringkas cerita, dan memahami lelucon atau humor. Remaja disleksia juga sering kali membaca sesuatu dengan suara yang keras, serta mereka kesulitan dalam mempelajari bahasa asing.

Penyebab gangguan disleksia ini adalah gen yang diturunkan oleh orang tua yang fungsinya untuk mengontrol kerja otak. Gen-gen ini dapat mempengaruhi sifat sang anak yang bisa mempengaruhi kerja otak dalam mempelajari suatu bahasa.

Penyakit disleksia adalah penyakit seumur hidup yang belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya. Biasanya pengobatan disleksia dilakukan dengan menjalani tes psikologi atau melalui pendidikan yang akan memberikan pengajaran yang sesuai dengan kondisi anak penderita disleksia. Penderita disleksia biasanya memperoleh pendidikan khusus yang melibatkan semua panca inderanya untuk belajar memahami sesuatu. Untuk meningkatkan kemampuan membacanya, sang anak akan diajarkan dengan teknik melihat, mendengar, dan menyentuh, misalnya dengan mendengarkan pelajaran yang sudah direkam.

Meski belum ditemukan obatnya, namun peran orang tua sangat berpengaruh pada kesembuhan penderita disleksia. Orang tua dapat melakukan hal-hal ini jika anaknya merupakan salah satu dari pengidap disleksia.

  1. Orang tua bisa memberikan pelajaran tambahan untuk anaknya yang disleksia sejak di bangku Taman Kanak-kanak mau pun di Sekolah Dasar. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan membacanya dan agar tidak tertinggal dengan teman-temannya yang lain. Jika tidak memperoleh pengajaran secara intensif maka anak akan sulit dalam mengejar ketertinggalan akademisnya.
  2. Jika gejala anak disleksia sudah Anda deteksi sejak usia 6 bulan atau lebih awal, maka biasakan anak Anda untuk mendengarkan bacaan yang Anda baca dengan keras atau mendengarkan rekaman atas bacaan yang Anda baca. Setelah anak tumbuh semakin besar, mulailah untuk membantunya dalam membaca bacaan yang ringan dan kemudian rekamlah saat sang anak membaca lalu biarkan dia mendengarkan sendiri bacaannya. Hal ini akan membantu anak dalam belajar membaca dan memahami sesuatu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here