berpikir, dilema
Ilustrasi.

Bhataramedia.com – Perilaku jujur itu seperti saat kita mematuhi diet. Menurut studi baru, ketika kita menghadapi dilema etika, menyadari godaan sebelum hal itu terjadi dan berpikir mengenai konsekuensi jangka panjang dari perbuatan buruk, dapat membantu lebih banyak orang melakukan hal yang benar.

Penelitian tersebut berjudul “Anticipating and Resisting the Temptation to Behave Unethically.” Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Ayelet Fishbach dari University of Chicago Booth School of Business Behavioral Science and Marketing dan Asisten Profesor Oliver J. Sheldon dari Rutgers Business School. Penelitian ini telah diterbitkan di Personality and Social Psychology Bulletin.

Penelitian tersebut merupakan yang pertama menguji bagaimana dua faktor yang terpisah dari mengidentifikasi konflik etika dan pelatihan  pengendalian diri dini, berinteraksi untuk membentuk pembuatan keputusan etis.

Pada serangkaian percobaan yang mencakup dilema etika umum, seperti kondisi sakit untuk bekerja dan negosiasi penjualan rumah, para peneliti menemukan bahwa kedua faktor bersama-sama mendorong perilaku etis. Peserta yang mengidentifikasi potensi dilema etika untuk terhubung ke insiden lain yang sejenis dan juga mengantisipasi godaan untuk bertindak tidak etis, lebih cenderung berperilaku jujur daripada peserta yang tidak.

“Perilaku tidak etis merajalela di berbagai bidang kehidupan mulai dari bisnis dan politik hingga pendidikan dan olahraga,” kata Fishbach. “Organisasi yang sedang berusaha untuk meningkatkan perilaku etis dapat melakukannya dengan membantu orang mengenali dampak kumulatif dari tindakan tidak etis dan dengan memberikan isyarat peringatan untuk godaan yang akan datang.”

Dilansir University of Chicago Booth School of Business (05/06/2015), pada satu percobaan, siswa sekolah bisnis dibagi menjadi pasangan sebagai broker untuk pembeli dan penjual dari bangunan bersejarah ‘New York brownstone’. Dilemanya adalah penjual ingin melestarikan properti, sementara pembeli ingin menghancurkan dan membangun hotel. Broker untuk pembeli diberitahu untuk hanya menjual kepada pembeli yang akan menyelamatkan bangunan tersebut, sedangkan broker untuk pembeli diberitahu untuk menyembunyikan rencana pembeli untuk mengembangkan sebuah hotel.

Sebelum negosiasi dimulai, setengah dari siswa diminta untuk mengingat waktu ketika mereka ditipu atau menyalahi aturan agar selangkah lebih maju. Hanya 45 persen dari mereka siswa berpikir mengenai mengedepankan etika mereka dibandingkan berperilaku tidak etis di dalam negosiasi. Sementara itu, lebih dari dua pertiga, atau 67 persen, dari siswa yang tidak mengedepankan etika, berbohong di dalam negosiasi untuk mencapai kesepakatan.

Pada percobaan lain yang melibatkan skenario kerja, peserta kurang mungkin untuk mengatakan tidak apa-apa untuk mencuri perlengkapan kantor, mengaku sakit ketika mereka tidak benar-benar sakit, atau sengaja bekerja perlahan untuk menghindari tugas-tugas tambahan, jika mereka mengantisipasi dilema etika dan jika mereka mempertimbangkan serangkaian enam dilema etika sekaligus.

Dengan kata lain, orang-orang lebih cenderung terlibat di dalam perilaku tidak etis jika mereka percaya perbuatan tersebut merupakan insiden yang terisolasi dan jika mereka tidak berpikir mengenai hal itu sebelumnya.

Hasil percobaan ini memiliki potensi untuk membantu para pembuat kebijakan, pendidik dan pengusaha merancang strategi untuk mendorong orang berperilaku etis. Misalnya, seorang manajer dapat mengendalikan biaya dengan mengirimkan email pada karyawan sebelum bekerja, yang berisi peringatan terhadap godaan untuk membesar-besarkan biaya. Pemberitahuan dapat lebih efektif jika manajer mengingatkan karyawan bahwa dorongan untuk membesar-besarkan biaya adalah godaan yang akan mereka hadapi berulang-ulang di masa depan.

Referensi Jurnal :

O. J. Sheldon, A. Fishbach. Anticipating and Resisting the Temptation to Behave Unethically. Personality and Social Psychology Bulletin, 2015; DOI: 10.1177/0146167215586196.