Dr. Yan Yan Sunarya, M.Sn.: Figur Eksentrik Dunia Pendidikan ITB. (Credit: itb.ac.id)
Dr. Yan Yan Sunarya, M.Sn.: Figur Eksentrik Dunia Pendidikan ITB. (Credit: itb.ac.id)

Bhataramedia.com – Dosen di sebuah perguruan tinggi, mungkin akan dinilai tidak jauh dari dosen yang baik dan killer. Dua julukan tersebut nampak akrab di telinga oleh mahasiswa se Indonesia. Namun julukan dosen killer tersebut tidak berlaku bagi Yan Yan Sunarya, dosen yang disebut-sebut paling gaul di Institut Teknologi Bandung Tersebut.

Pengajaran yang ia berikan ke mahasiswa tentu berbeda dengan dosen-dosen yang lain. Dosen ITB yang satu ini selalu memainkan perannya dalam penyampaian ilmu-ilmu tingkat universitas yang terbilang sulit, namun ia lakukan dengan cara yang tepat agar mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan ilmunya secara nyata.

Dosen yang satu ini terbilang unik, dan inovatif dalam melakukan pengajaran. Ada tiga cara dalam melakukan pembelajaran yang beda dari dosen-dosen lainnya.

Dosen yang masih mengajar di Program Studi Kriya Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, ini menjadikan mahasiswa sebagai sahabatnya.

Ia mengungkapkan sebenarnya, konsentrasi mahasiswa di dalam kelas hanya 10 hingga 15 menit full. “Konsentrasi belajar mahasiswa di kelas hanya bertahan di 10 sampai 15 menit awal. Untuk dapat mempertahankan suasana kondusif di kelas, penguasaan massa menjadi strategi utama yang harus dipegang. Dalam setiap pertemuan, harus selalu ada pembaruan, baik dalam permainan tutur kata, maupun bentuk presentasi yang menarik.” Kata Yan Yan, seperti yang dilansir dari stus resmi ITB (4/5/2015).

Yan Yan yang selama ini sudah mengabdi di ITB selama 18 tahun ini menambahkan bahwa, untuk membantu mahasiswa dalam belajar ia pun menjadikan mahasiswa ini sebagai temannya. “Saya harus menjadi sahabat mahasiswa. Sumber daya anak ITB secara akal sudah hebat, maka saya harus kasih yang hebat juga, atau kalau tidak, ya naif sekalian,” kata Yan Yan.

Bukan hanya menjadikan mahasiswa sebagai sahabat, namun Yan Yan juga melibatkan mahasiswa dalam praktek-praktek keilmuan tertentu. Sehingga mahasiswa sendirilah yang akan menyelesaikan problem saat menemukan sesuatu pada objek bidang studi yang tengah dipelajari.
Yan Yan pun, hingga saat ini masih terus eksis di bidang seni dan matematika. Ia pun menilai bahwa kehidupan ini sejatinya hanyalah sementara.

“Kehidupan di dunia ini hanya bersifat sementara, ” lanjut Yan Yan.

Baginya kehidupan di dunia, khususnya di ITB, bagaikan tetesan air yang sangat kecil. Sehingga ia berharap agar mahasiswa mau terus menggali kehidupan melalui ilmu pengetahuan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here