Bhataramedia.com – Selain dikenal sebagai Pulau Timah, Negeri Laskar Pelangi, dan Karibia dari Timur, Belitung juga dikenal sebagai pulau dengan bermacam penghuni. Berbagai suku bangsa dapat hidup di Belitung dengan harmonis, mulai dari penduduk asli yang menamakan diri Suku Melayu, imigran dari China, hingga pendatang dari Kepulauan Riau yang disebut Suku Sawang.

Suku Sawang kerap disebut-sebut dalam rangkaian novel Andrea Hirata, yakni tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan. Sebagaimana yang diceritakan dalam novel, Suku Sawang menggantungkan hidupnya pada laut. Dahulu, suku ini bahkan hidup nomaden (berpindah-pindah) di atas rumah perahu dari lokasi pantai satu ke pantai yang lain. Tidak berlebihan jika kita menyebut Suku Sawang sebagai “penjaga” laut Belitung.

Suku Sawang dikenal juga dengan nama Suku Kapong Laut. Mereka dikenal sebagai nelayan yang tangguh dan pembuat perahu yang handal. Suku Sawang kebanyakan memiliki pribadi yang sederhana. Mereka sebagian besar menganut agama Islam sebagaimana Riau dan Belitung, sebagian lagi masih memegang kepercayaan tradisional.

Suku ini diperkirakan masuk ke Belitung pada masa akhir penjajahan Belanda atau masa awal penjajahan Jepang. Mereka membangun pemukiman di pesisir pantai, kebanyakan berupa rumah perahu. Saat ini ada sekitar 50 kepala keluarga Sawang yang tinggal di Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, atau sekitar 10 km dari pusat kota Manggar.

Satu hal yang amat disayangkan dari Suku Sawang adalah sikap mereka yang mulai meninggalkan budaya sendiri. Saat ini, hanya sekitar 30% Suku Sawang yang menggunakan bahasa Sawang atau bahasa Suku Laut. Sekitar dua pertiga lainnya sudah menggunakan bahasa Melayu dan Indonesia. Bahkan banyak anak-anak muda Sawang yang mengaku tidak paham lagi bahasa Sawang.

Suku Sawang juga bukan lagi suku yang seluruhnya turun melaut. Generasi mudanya lebih suka mencari pekerjaan di darat atau merantau ke kota. Persinggungan dengan budaya asing menjadikan tradisi Sawang, pelan namun pasti, terpinggirkan dan terlupakan.

Tradisi Suku Sawang yang masih dipertahankan hingga kini adalah “Buang Jong atau Muang Jong”. Masyarakat Sawang akan membuat miniatur perahu dari kayu jeruk antu, lalu diisi oleh beragam kue seperti ketupat dan makanan yang dibungkus daun seperti lemper, kemudian dilarung ke laut bersama-sama. Pesta Buang Jong dilakukan semalam suntuk dengan menari mengelilingi perahu miniatur dan mendendangkan syair-syair yang dinilai mengandung magis. Menjelang subuh, perayaan diakhiri dengan membuang perahu ke laut.

Buang Jong dimaksudkan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan dan permohonan agar Dia melindungi suku Sawang ketika melaut. Usai Buang Jong, masyarakat Sawang pantang melaut selama tiga hari berturut-turut. Dulu tradisi Buang Jong amat meriah dan ditunggu-tunggu, namun sekarang daya tariknya sudah mulai memudar.

Sebagai salah satu suku asli yang masih bertahan di Indonesia, seharusnya budaya suku Sawang harus tetap dilestarikan sebagai kekayaan bangsa. Jangan sampai keanekaragaman ini hilang satu per satu ditelan zaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here