teh hijau
Teh hijau.(Foto: Thinkstock)

Bhataramedia.com –┬áKanker prostat adalah jenis kanker paling umum kedua pada pria dan diperkirakan menimbulkan sekitar 220.000 kasus di Amerika Serikat pada tahun 2015. Di dalam beberapa tahun terakhir, penekanan telah ditempatkan pada kemoprevensi, berupa penggunaan agen untuk mencegah pengembangan atau perkembangan kanker prostat.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Nagi B. Kumar, Ph.D., R.D., F.A.D.A. di Moffitt Cancer Center baru-baru ini menerbitkan hasil uji coba secara acak yang menilai keamanan dan efektivitas komponen aktif di dalam teh hijau untuk mencegah perkembangan kanker prostat pada pria yang memiliki lesi premalignant (kondisi yang umum terkait dengan peningkatan risiko kanker).

Dilansir H. Lee Moffitt Cancer Center & Research Institute (2805/2015), dua puluh persen dari teh hijau dikonsumsi di negara-negara Asia, dimana kematian akibat kanker prostat termasuk yang paling rendah di dunia. Risiko kanker prostat tampaknya meningkat di antara orang-orang Asia yang meninggalkan kebiasaan diet asli mereka setelah bermigrasi ke AS.

Penelitian laboratorium telah menunjukkan bahwa zat di dalam teh hijau yang disebut, “katekin” dapat menghambat pertumbuhan, motilitas dan invasi sel kanker, seerta merangsang kematian sel kanker. Katekin di dalam teh hijau juga mencegah dan mengurangi pertumbuhan tumor pada hewan model. Epigallocatechin-3-gallate (EGCG) adalah jenis katekin paling melimpah dan ampuh, yang bertanggung jawab untuk efek pencegahan kanker ini.

Tujuan dari uji coba ini adalah untuk mengevaluasi apakah intervensi satu tahun dengan katekin teh hijau dapat menekan perkembangan kanker prostat pada pria yang memiliki high-grade intraepithelial neoplasia (HGPIN) atau atypical small acinar proliferation (ASAP). Para peneliti menggunakan kapsul teh hijau tanpa kafein yang disebut Polyphenon E. Kapsul ini berisi campuran katekin yang didominasi kandungan EGCG pada dosis 200 mg dua kali sehari.

Para peneliti membandingkan Polyphenon E pada 49 laki-laki dengan tablet plasebo pada 48 laki-laki selama periode pengobatan 1 tahun. Secara keseluruhan, perbedaan jumlah kasus kanker prostat pada akhir 1 tahun di antara kedua kelompok tidak signifikan secara statistik.

Namun, pada pria yang hanya memiliki HGPIN pada awal uji coba, mereka mengamati tingkat perkembangan ASAP dan kanker prostat yang lebih rendah pada perlakuan dengan Polyophenon E. ASAP adalah suatu entitas yang mencerminkan kelompok lesi yang luas pada prostat, tetapi tidak terjadi cukup perubahan di dalam sel untuk secara definitif didiagnosis sebagai kanker prostat.

Selain itu, laki-laki yang menerima Polyphenon E memiliki penurunan yang signifikan di dalam tingkat prostate-specific antigen (PSA). PSA adalah biomarker yang dikombinasikan dengan faktor risiko lain yang digunakan untuk skrining pasien kanker prostat. Tingkat yang tinggi dari PSA menandakan risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker prostat.

Para peneliti dari Moffitt telah mengamati peningkatan kadar tingkat EGCG yang signifikan di dalam plasma darah manusia yang menerima Polyphenon E. Selain itu, kapsul pada dosis ini dapat ditoleransi di dalam kelompok.
Hasilnya akan dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan American Society of Clinical Oncology (ASCO) 2015 di Chicago.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here