Bhataramedia.com – Studi baru menjelaskan bahwa karang di Great Barrier Reef semakin berkurang dan para ilmuwan menyalahkan pengasaman laut untuk lambatnya pertumbuhan karang.

Tingkat pertumbuhan karang telah menurun drastis sebesar 40 persen sejak pertengahan 1970-an. Mengingat bahwa Great Barrier Reef adalah situs koleksi karang terbesar (lebih dari 400 jenis), para ilmuwan mulai khawatir.

“Terumbu karang semakin terkena imbasnya,” kata pemimpin studi tersebut,  Ken Caldeira dari Carnegie Institution.

“Tidak hanya dari pengasaman laut, faktor-faktor lain seperti pemanasan global, pencemaran pesisir dan overfishing, juga merusak terumbu karang yang merupakan tempat berlindung bagi keanekaragaman hayati laut,” tambah dia, seperti dilansir NatureWorldNews (18/9/2014).

Namun di dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Geochimica et Cosmochimica Acta tersebut, para peneliti memfokuskan pada pengasaman laut.

Ekosistem terumbu karang sangat sensitif terhadap perubahan kimia air laut sebagai akibat dari aktivitas manusia. Sejak awal Revolusi Industri, sekitar sepertiga dari karbon dioksida (CO2) yang telah dilepaskan ke atmosfer sebagai akibat dari bahan bakar fosil, misalnya, telah diserap oleh lautan dan merusak terumbu karang.

Namun, pada saat laut menyerap CO2, hal ini berdampak pada proses penting yang dilakukan oleh karang yang disebut kalsifikasi, dimana terumbu menggunakan mineral yang disebut aragonit untuk membuat kerangka mereka. Cara kerjanya adalah CO2 akan bergabung dengan aragonit, bentuk alami dari kalsium karbonat (CaCO3), untuk membentuk asam karbonat (H2CO3). Hal ini, pada gilirannya, akan membuat lautan lebih asam dan mengurangi pH.

Oleh karena manusia terus memanfaatkan bahan bakar fosil dan melepaskan gas rumah kaca yang berbahaya ke atmosfer, beberapa di antaranya diambil oleh lautan, sehingga karang akan kesulitan untuk tumbuh kerangkanya. Tidak hanya mengancam terumbu karang, tetapi berbagai spesies yang bergantung pada terumbu karang juga ikut terancam. Menurut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), 1.500 spesies ikan dan 4.000 jenis moluska menghuni Great Barrier Reef.

Caldeira dan timnya memutuskan untuk mengukur dan membandingkan tingkat kalsifikasi di masa lalu dan baru-baru ini dalam dua segmen di Great Barrier Reef.

Tim menemukan bahwa tingkat kalsifikasi karang adalah 40 persen lebih rendah pada tahun 2008 dan 2009 dibandingkan tahun 1975 dan 1976 selama musim yang sama.

“Terumbu karang telah ada selama jutaan tahun, tetapi cenderung akan menjadi sesuatu dari masa lalu. Kita dapat mengubah hal tersebut dengan memulai menjalankan peraturan dan manajemen yang tepat untuk mengatasinya dengan segera,” tambah Caldeira.

Penelitian ini mengikuti kebijakan Australia yang mengumumkan rencana 35 tahun untuk menyelamatkan Great Barrier Reef. Rencana-rencana tersebut akan mengambil langkah-langkah untuk memerangi berbagai ancaman terhadap terumbu karang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here